<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah Catatan Harian Singkat &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://berlizone.com/category/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berlizone.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 13:31:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Susahnya Memaafkan Diri Sendiri</title>
		<link>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-diri-sendiri.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-diri-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 03:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan postingan saya tentang susahnya memaafkan dan meminta maaf terdahulu? Jika lupa ataupun belum sempat membaca, silahkan bergulir ke halaman itu. Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas topik sejenis seputar maaf memaafkan, hanya saja kali ini objeknya berbeda yaitu bukan memaafkan orang lain melainkan memaafkan diri sendiri. Terdengar cukup klasik namun percayalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 208px"><img style="margin: 5px;" title="Susahnya memaafkan diri sendiri" src="http://fc07.deviantart.com/fs23/i/2008/022/2/3/forgive__by_SelfTitledNightmare.jpg" alt="selftitlednightmare.deviantart.com" width="198" height="148" /><p class="wp-caption-text">selftitlednightmare.deviantart.com</p></div>
<p>Masih ingat dengan postingan saya tentang <a href="http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-dan-meminta-maaf.html">susahnya memaafkan dan meminta maaf </a>terdahulu? Jika lupa ataupun belum sempat membaca, silahkan bergulir ke halaman itu. Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas topik sejenis seputar maaf memaafkan, hanya saja kali ini objeknya berbeda yaitu bukan memaafkan orang lain melainkan memaafkan diri sendiri. Terdengar cukup klasik namun percayalah saya pernah beberapa kali mendapatkan email  yang isinya meminta pendapat sekaligus meminta saran tentang masalah memaafkan diri sendiri. Dan memang memaafkan diri sendiri terkadang lebih susah daripada memaafkan orang lain.</p>
<p>Sedikit menyiksa memang jika kita melakukan suatu kesalahan dan selalu terngiang-ngiang di kepala tentang kesalahan yang kita buat tersebut.  Terlebih lagi jika kesalahan tersebut melibatkan orang-orang terdekat kita, mungkin rasanya  beragam mulai dari malu, tersiksa batin, susah tidur, atau mungkin ingin melakukan operasi plastik untuk mengganti wajah. Hehehe.. Terkesan becanda namun pada kenyataannya ini masalah yang cukup serius, karena tidak bisa memaafkan diri sendiri sangat berpotensi untuk menimbulkan trauma yang sangat mungkin membuat seseorang tidak bisa hidup “normal”. Dan tulisan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang sulit memaafkan dirinya sendiri.</p>
<p><span id="more-312"></span>Perasaan bersalah memang sangat diperlukan, adanya perasaan bersalah bukan hal buruk jika kita menyikapinya dengan tepat. Adanya perasaan bersalah itu menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki perasaan malu dan takut, artinya paling tidak masih ada keimanan dalam hatinya. Analoginya begini, misalkan hati kita adalah sebuah kertas dan noda hitam adalah kesalahan yang kita perbuat. Jika perasaan bersalah muncul di hati yang bersih maka seperti noda hitam yang ada di kertas yang putih, sangat mengganggu dan ingin segera dibersihkan. Lalu bayangkan jika seandainya kertas tersebut berwarna hitam, noda hitam tentunya tak akan jadi pengganggu karena memang tidak mengubah kehitaman kertas tersebut. Kertas hitam itulah yang diibaratkan sebagai hati yang sudah kebal dengan kesalahan, sudah terbiasa melakukan kesalahan dan seolah tak memiliki perasaan bersalah sedikitpun. Jadi, pertama-tama bersyukur dahulu karena hatimu bukanlah kertas hitam karena masih memiliki keresahan hati akan suatu kesalahan.</p>
<p><em>“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka seseungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”</em> <strong>(Q.S An-Nazi’aat: 40-41)</strong></p>
<p>Masalahnya terkadang perasaan bersalah yang berlebihan mampu memberikan tekanan batin yang luar biasa. Bahkan mampu membuat seseorang berputus asa dan yang terparah adalah muncul niatan untuk mengakhiri hidup sendiri. Naudzubillah. Karena itulah perasaan bersalah wajib kita kendalikan untuk menghindari dari keputusasaan.</p>
<p><em>“…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”</em> <strong>(Q.S Yusuf: 87)</strong></p>
<p>Beberapa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan rasa bersalah antara lain adalah :</p>
<p><strong>Salah itu Manusiawi, Lebih baik Akui daripada ditutupi</strong><br />
Tak ada orang yang sempurna 100% tanpa dosa di bumi ini. Setiap orang pasti pernah berbuat salah entah kesalahan kecil ataupun kesalahan besar. Bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang semakin besar godaan untuk berbuat salah. Tidak ada untungnya menutupi sebuah kesalahan yang kita kerjakan, lebih baik segera akui dan hindari dari berbohong untuk menutupinya. Toh, Allah Maha Mengetahui segala perbuatan makhluknya. Jika perbuatan salah tersebut melibatkan urusan orang lain segera datangi dan minta maaf padanya, Insya Allah hati menjadi lebih lega dan akan lebih mudah memaafkan diri sendiri.</p>
<p><strong>Yakinlah Allah itu Maha Pengampun</strong><br />
<em>“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”</em> <strong>(Q.S an-Najm: 32)</strong>.</p>
<p>Janganlah menghakimi diri kita sendiri dengan perasaan bersalah. Allah saja bukan Zat yang dzalim, yang menutup kebaikan bagi kita. Selalu ada jalan untuk kembali ke jalan-Nya selama ajal belum menjemput. Tentu saja dengan taubat yang sungguh-sungguh, alias taubatan nasuha yang berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan jelek tersebut.</p>
<p><strong>Tambal Dengan Kebaikan</strong><br />
Anggaplah sebuah tabungan dimana kesalahan berarti mengurang saldo, dan berbuat baik adalah melakukan setoran tunai. Jika melakukan kesalahan segeralah mengerjakan kebaikan untuk menjaga saldo tabungan kita tidak terkuras.</p>
<p><em>“…dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, karena ia akan menghapusnya.” </em><strong>(al-Hadits)</strong></p>
<p><strong>Jadikan Pelajaran </strong><br />
Berbuat salah memang “pahit” rasanya, namun akan berarti positif bagi kita jika dijadikan sebagai pelajaran. Dari kesalahan kita semakin sadar betapa pahit dan mahalnya harga sebuah kesalahan. Maka jadikan kesalahan yang kita perbuat sebagai pelajaran berharga, bukan hanya sekedar kenangan.</p>
<p>Wallahuallam…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-diri-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cahaya Hati</title>
		<link>http://berlizone.com/cahaya-hati.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/cahaya-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 02:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh luar biasa peranan hati (qalbu) bagi manusia dalam kehidupannya. Baik buruknya suatu sifat dan tindakan seseorang sering dikaitkan dengan gambaran keadaan hatinya. Kehendak hati bahkan lebih besar pengaruhnya terhadap perbuatan seseorang jauh melampaui otak. Seseorang dapat saling mencinta pun saling membenci karena hati. Sifat baik ataupun buruk yang menemani perjalanan hidup seseorang pun tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_291" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img class="size-full wp-image-291" style="margin: 5px;" title="cahaya hati" src="http://berlizone.com/wp-content/uploads/2009/01/cahaya_hati.jpg" alt="http://asylum-doll.deviantart.com" width="240" height="192" /><p class="wp-caption-text">http://asylum-doll.deviantart.com</p></div>
<p>Sungguh luar biasa peranan hati (qalbu) bagi manusia dalam kehidupannya. Baik buruknya suatu sifat dan tindakan seseorang sering dikaitkan dengan gambaran keadaan hatinya. Kehendak hati bahkan lebih besar pengaruhnya terhadap perbuatan seseorang jauh melampaui otak. Seseorang dapat saling mencinta pun saling membenci karena hati. Sifat baik ataupun buruk yang menemani perjalanan hidup seseorang pun tak luput dari peranan hati dalam dirinya.</p>
<p>Hati memang yang paling lazim digunakan untuk menggambarkan diri seseorang yang sebenar-benarnya. Sering kita mendengar kalimat-kalimat seperti “Itukan hanya luarnya saja, siapa yang tahu di dalam hatinya seperti apa” atau kalimat sejenis lainnya. Memang tak akan ada yang bisa mengetahui keadaan hati seseorang kecuali tentunya Allah dan dirinya sendiri.</p>
<p><span id="more-292"></span></p>
<p>Sayang tak selamanya hati terbebas dari beragam penyakit hati. Cahaya hati yang seharusnya bisa membuat seseorang melihat lebih jelas tentang hal yang baik dan buruk pun bisa meredup atau bahkan hilang sama sekali akibat penyakit-penyakit hati tersebut. Sifat iri, dengki, ataupun kesombongan hanyalah sebagian kecil dari penyakit hati yang sering kali melekat pada diri seseorang. Sebagian orang merasa wajar dan memaklumi hal tersebut, tak sepenuhnya salah karena memang manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>
<p>Namun bukan hal yang mustahil jika seseorang mampu terbebas dari penyakit yang mampu meredupkan cahaya hatinya tersebut. Banyak cara untuk menjaga cahaya hati dari kepadamannya. Lalu kepada siapakah kita meminta pertolongan ketika cahaya hati mulai terasa padam??</p>
<p>Seorang guru pernah mengajukan pertanyaan ringan kepada murid-muridnya, sang guru bertanya “Apa yang akan kalian lakukan jika seandainya hendak mengunjungi  rumah tetangga namun ada Anjing penjaga yang galak dan hobi menggigit ?”. Banyak jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut. Seseorang bisa saja tetap nekat masuk dengan resiko digigit, ataupun mengurungkan niatnya untuk mengunjungi tetangganya itu. Lalu bagaimana dengan jawaban sang guru? Beliau mengatakan bahwa cara terbaik adalah dengan meminta bantuan kepada si pemilik anjing tersebut. Seekor anjing penjaga seberapapun galaknya tetap akan menuruti perintah pemiliknya.</p>
<p>Lalu adakah hubungan antara analogi anjing penjaga di atas dengan hati manusia? Jawabannya tentu saja ada. Pertanyaan yang harus kita renungkan sebelumnya adalah, kepada siapa kita meminta pertolongan ketika hati kita mulai kehilangan cahayanya? Tentu saja kepada Sang Pemilik Hati Manusia yang mampu membolak-balikan hati makhluk ciptaanNya. Allah yang mampu menerangi hati dari kekelamannya, memberikan cahaya untuk keluar dari kegelapan hati. Karena itu, jika cahaya hati dalam dirimu terasa mulai padam maka minta lah kepada Sang Pemilik Hati untuk menyalakan kembali cahaya hati tersebut.</p>
<p style="text-align: left;"><em>“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Permumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”</em><strong></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>(QS.An-Nur: 35)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/cahaya-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Pedagang Bakso: Jawaban Sederhana Penuh Makna</title>
		<link>http://berlizone.com/jawaban-sederhana-penuh-makna.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/jawaban-sederhana-penuh-makna.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 08:04:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Infaq]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Menabung]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan di bawah ini adalah tulisan dari Dede Farhan Aulawi yang mungkin sudah beredar dan terkenal di milis-milis atau beberapa blog yang juga memuat tulisan ini. Sengaja saya pasang di blog ini tanpa mengubah isinya karena tulisan bermanfaat seperti ini memang pantas disebarkan. Dan insya Allah dibalik tulisan sederhana ini terdapat makna yang sangat besar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 298px"><img style="border: 0pt none; margin: 10px;" title="Tukang Bakso" src="http://fc67.deviantart.com/fs23/i/2008/028/6/b/abang_tukang_bakso_by_zamiduth.jpg" alt="http://zamiduth.deviantart.com" width="288" height="192" /><p class="wp-caption-text">http://zamiduth.deviantart.com</p></div>
<p>Tulisan di bawah ini adalah tulisan dari <span style="font-size: 10pt; color: black;">Dede Farhan Aulawi yang mungkin sudah beredar dan terkenal di milis-milis atau beberapa blog yang juga memuat tulisan ini. Sengaja saya pasang di blog ini tanpa mengubah isinya karena tulisan bermanfaat seperti ini memang pantas disebarkan. Dan insya Allah dibalik tulisan sederhana ini terdapat makna yang sangat besar. Selamat Membaca dan semoga bermanfaat</span>.</p>
<p>Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor, terdengar suara tek…tekk.. .tek… Suara tukang bakso dorong lewat.</p>
<p>Sambil menyeka keringat, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak &#8211; anak,  siapa yang mau bakso ? “Mauuuuuuuuu. ..”, secara serempak dan kompak anak &#8211; anak asuhku menjawab.</p>
<p><span id="more-255"></span><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2297039045488160";
/* bagian isi tulisan */
google_ad_slot = "9306173787";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>
<p>Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan di laci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang &#8211; uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?”</p>
<p>“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang,<br />
mana yang menjadi hak Orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman “.</p>
<p>“Maksudnya.. . ?”, saya melanjutkan bertanya.<br />
”Iya Pak , kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari &#8211; hari Emang dan keluarga.</li>
<li>Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.</li>
<li>Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.</li>
</ol>
<p>Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.</p>
<p>Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : ”Iya memang bagus, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.</p>
<p>Iya menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.</p>
<p>Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.</p>
<p>“Masya Allah…,sebuah jawaban eelegan dari seorang tukang bakso”.</p>
<p>Sahabat….Cerita ini sangat sederhana.</p>
<p>Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/jawaban-sederhana-penuh-makna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biarkan Esok Datang dengan Sendirinya</title>
		<link>http://berlizone.com/biarkan-esok-datang-dengan-sendirinya.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/biarkan-esok-datang-dengan-sendirinya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 15:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[“Tommorow is a mystery”, bagi yang sudah pernah menyaksikan film animasi KungFu Panda pasti mengenal rangkaian kata-kata pada kalimat itu. Sebuah kalimat yang membuat kita kembali menyadari bahwa hari esok adalah sesuatu yang belum nyata, belum berwujud, dan tanpa rasa ataupun warna. Lalu untuk apa kita menyibukkan diri dengan hari esok? Mencemaskan hal-hal yang terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 208px"><img style="margin: 5px;" title="A Bridge to the Unknown" src="http://th08.deviantart.com/fs6/300W/i/2005/040/7/9/A_Bridge_to_the_Unknown_by_flyKiWi.jpg" alt="http://flykiwi.deviantart.com/art/A-Bridge-to-the-Unknown-14987719" width="198" height="318" /><p class="wp-caption-text">http://flykiwi.deviantart.com/</p></div>
<p>“Tommorow is a mystery”, bagi yang sudah pernah menyaksikan film animasi KungFu Panda pasti mengenal rangkaian kata-kata pada kalimat itu. Sebuah kalimat yang membuat kita kembali menyadari bahwa hari esok adalah sesuatu yang belum nyata, belum berwujud, dan tanpa rasa ataupun warna. Lalu untuk apa kita menyibukkan diri dengan hari esok? Mencemaskan hal-hal yang terjadi esok sementara kita sendiri tidak tahu apakah akan bertemu dengannya atau tidak.</p>
<p>Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Seperti pemetik buah yang tidak memetik buah-buahannya sebelum masak, ataupun seperti seorang ibu yang tidak mau mengeluarkan kandungannya sebelum waktu kelahiran sang bayi. Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi.</p>
<p>DR.’Aidh al-Qarni dalam buku La Tahzannya menjelaskan bahwa tidak sepantasnya kita menyebrangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebab siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyebranginya.</p>
<p><span id="more-102"></span>Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Tidak ada gunanya berkelahi dengan bayang-bayang semu, seperti orang dengan angan-angan yang berlebihan.</p>
<p>**Terinspirasi dari film KungFu Panda, dan banyak menyadur dari buku La Tahzan karya DR.Aidh al-Qarni.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/biarkan-esok-datang-dengan-sendirinya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhlas Itu&#8230;</title>
		<link>http://berlizone.com/ikhlas-itu.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/ikhlas-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 04:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Obolan Santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[
Ikhlas itu&#8230;
Hmmm&#8230;banyak sekali orang yang menganalogikan ikhlas dengan berbagai macam hal. Saya pun juga sudah banyak menemukan analogi-analogi yang menggambarkan bentuk keikhlasan itu.
Namun analogi yang paling menarik dan paling mudah dimengerti adalah analogi ikhlas yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

&#8220;Ikhlas itu seperti orang yang sedang membuang kotoran&#8221;
Hehehe&#8230;bercanda?? Tentu tidak, justru sebaliknya ini sangat serius.
Orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img style="margin: 10px;" src="http://www.kitchen-bath-plus.com/images/untitled.bmp" alt="" width="300" height="300" /></p>
<p>Ikhlas itu&#8230;</p>
<p>Hmmm&#8230;banyak sekali orang yang menganalogikan ikhlas dengan berbagai macam hal. Saya pun juga sudah banyak menemukan analogi-analogi yang menggambarkan bentuk keikhlasan itu.</p>
<p>Namun analogi yang paling menarik dan paling mudah dimengerti adalah analogi ikhlas yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p><strong>&#8220;Ikhlas itu seperti orang yang sedang membuang kotoran&#8221;</strong></p>
<p>Hehehe&#8230;bercanda?? Tentu tidak, justru sebaliknya ini sangat serius.</p>
<p>Orang yang sedang membuang kotoran tidak pernah menghitung jumlah kotoran yang dia keluarkan, tidak pernah berusaha untuk menahan-nahan kotoran yang akan dikeluarkan itu, tiada penyesalan dan tidak pernah mengharapkan kotoran itu untuk diambil kembali, tidak pernah mengungkit-ungkit kembali tentang kotoran yang sudah dikeluarkan itu, dan tentu saja dia justru akan merasa lega setelah membuang kotoran tersebut bukan malah membuatnya tersiksa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/ikhlas-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petikan Buah Hikmah dalam Peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj</title>
		<link>http://berlizone.com/petikan-buah-hikmah-dalam-peristiwa-isra-miraj.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/petikan-buah-hikmah-dalam-peristiwa-isra-miraj.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 15:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hikhmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Isra&#8217; Mi&#8217;raj, sebuah peristiwa yang sudah pasti sangat akrab terdengar di telinga kita. Begitu istimewanya fenomena luar biasa ini hingga semua umat muslim di dunia selalu mengingatnya. Terlebih dari sekedar mengingat, topik Isra Mi&#8217;raj juga sangat sering dilantunkan pada ceramah-ceramah rohani dengan tujuan agar kita menyadari terdapat suatu buah hikmah besar yang bisa kita petik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Isra&#8217; Mi&#8217;raj, sebuah peristiwa yang sudah pasti sangat akrab terdengar di telinga kita. Begitu istimewanya fenomena luar biasa ini hingga semua umat muslim di dunia selalu mengingatnya. Terlebih dari sekedar mengingat, topik Isra Mi&#8217;raj juga sangat sering dilantunkan pada ceramah-ceramah rohani dengan tujuan agar kita menyadari terdapat suatu buah hikmah besar yang bisa kita petik dalam persitiwa ini.</p>
<p>Isra Mi&#8217;raj tidak jarang diidentikkan dengan ibadah shalat. Silahkan tengok ayat  berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>&#8220;Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) subuh.&#8221; (Al-Isra: 78).</strong></em></p>
<p style="text-align: left;">Jelas bahwa ayat tersebut menerangkan waktu shalat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu shalat Dzuhur dan Ashar, gelap malam untuk waktu Magrib, Isya dan Subuh. Dan turunnya perintah shalat tersebut adalah pada peristiwa Isra Mi&#8217;raj. Namun, sungguh tidak hanya itu hikmah besar yang terkandung dalam peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj. Sangat banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa ini. Dan tulisan ini kurang lebih akan membahas sedikit dari banyaknya pelajaran tersebut.</p>
<p><span id="more-64"></span>Jika kita tengok sebentar tentang bagaimana peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj terjadi, yaitu ketika Allah memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan mengangkatnya ke Sidratul Muntaha dalam satu malam, sangat tampak kekuasaan Allah yang begitu nyata. Melalui peristiwa ini Allah mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan apa yang kita miliki, karena memang sesungguhnya itu semua hanya milik Allah dan tanpa kehendak-Nya kita tidak mungkin mendapatkannya.</p>
<p>Hal lain yang tergambar dari peristiwa tersebut adalah bahwa hanya karena kehendak dan izin Allah lah peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj terjadi. Dari sini kita kembali bisa memetik buah hikmah dalam peristiwa ini, yaitu tentang makna rasa syukur. Peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj secara tegas menyatakan bahwa keterbatasan akal manusia tidak akan mampu menjangkau kuasa Allah. Akal pikiran, kecerdasan, harta, dan paras yang menawan adalah pemberian Allah, dan itu hanya sebagian kecil dari kuasa-Nya.  Lalu apakah kita sudah mensyukurinya?? Coba kita renungkan kembali surat Ar-Rahman, dimana terdapat suatu untaian kalimat indah yang berulang-ulang disebutkan dan berbunyi:<em> </em></p>
<p><strong><em>&#8220;Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?&#8221; </em></strong></p>
<p>Allah Maha Kaya, maka tidak mungkin Allah menjadi miskin sekalipun kita kufur terhadap nikmatnya. Apapun yang kita lakukan tidak akan mempengaruhi kebesaran Allah sedikitpun, dan yang menjadi pertanyaannya adalah pilihan mana yang kita ambil? Kufur atau Syukur?</p>
<p><strong><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (QS 17: 107)&#8221;</em></strong></p>
<p>Sebagai penutup, masih terlalu luas buah hikmah lain yang dapat kita petik yang tidak sanggup dijelaskan hanya dalam sebuah tulisan ini. Silahkan mencari artikel terkait yang sejenis di luar sana. Seperti <a title="Antara Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha" href="http://aulia87.wordpress.com/2008/07/26/antara-masjidil-haram-ke-masjidil-aqsha" target="_blank">salah satu tulisan yang ditulis teman saya misalnya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/petikan-buah-hikmah-dalam-peristiwa-isra-miraj.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Ada Duka ??</title>
		<link>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 02:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[duka]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[“Katakanlah tidak akan pernah ada satu musibah yang menimpa kita kecuali telah Allah tetapkan pada kita, dan hanya kepada Allah jualah orang-orang beriman bertawakal.” (at-Taubah: 51)
Orang yang bahagia seringkali diidentikkan dengan hal-hal baik yang diterima oleh orang tersebut. Namun sebenarnya orang yang bahagia itu bukan berarti hanya siap menerima yang enak-enak saja, tetapi juga yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“Katakanlah tidak akan pernah ada satu musibah yang menimpa kita kecuali telah Allah tetapkan pada kita, dan hanya kepada Allah jualah orang-orang beriman bertawakal.” (at-Taubah: 51)</em></p>
<p>Orang yang bahagia seringkali diidentikkan dengan hal-hal baik yang diterima oleh orang tersebut. Namun sebenarnya orang yang bahagia itu bukan berarti hanya siap menerima yang enak-enak saja, tetapi juga yang eneg-eneg. Hehehe&#8230; Bicara tentang hal yang enak-enak sudah jelas banyak orang yang sudah siap menerimanya, tapi yang membuat eneg (yang pahit) belum tentu setiap orang siap menerimanya. Padahal keduanya selalu datang bergantian ibarat roda yang berputar mengiringi langkah hidup kita.</p>
<p><em>“Dan masa kejayaan dan kehancuran itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran” (Ali Imran: 140)</em></p>
<p>Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari bagian pahit dari kehidupan. Ada yang harus kehilangan harta, ada yang harus kehilangan orang tercinta, atau ada pula yang harus kehilangan anggota tubuh. Itu semua adalah bagian dari kehidupan kita. Semuanya harus kita terima seperti kita menerima bagian yang manis dalam hidup ini.</p>
<p>Lalu mengapa harus ada duka dalam hidup ini?? Mengapa harus diturunkan musibah?? Bukankah dunia ini indah tanpa duka??</p>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p>Sahabatku, tidak ada satupun kejadian dan penciptaan di alam ini yang sia-sia. Bukan tanpa alasan musibah itu datang. Walaupun terdapat musibah yang bisa kita ambil hikmahnya seketika, ataupun yang kita belum bisa memahaminya. Jika kita berpikir lebih bijak serta merenungkannya, paling tidak ada beberapa alasan mengapa Allah memberikan musibah kepada kita.</p>
<p><strong>Mengingatkan kembali bahwa kita adalah manusia</strong><br />
Orang yang berjiwa positif akan berpikir sifat manusia yang lemah, serba terbatas, dan butuh bantuan orang lain. Ia akan semakin tunduk dalam kekuasaan Allah dan lenyap sikap sombong, takabur dan keras kepalanya.</p>
<p><strong>Sebagai ujian ketabahan hati</strong><br />
<em> “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155).</em><br />
Rasanya ayat tersebut sudah menjelaskan dengan jelas alasan kenapa harus ada duka. Hehe..</p>
<p><strong>Sebagai pelajaran yang bisa kita petik</strong><br />
Tidaklah Allah menciptakan  kegagalan dan musibah melainkan untuk diambil hikmahnya. Dalam setiap musibah ada pelajaran yang bisa kita petik. Melarikan diri dari kegagalan atau musibah tidaklah menyelesaikan masalah, karena langkah itu hanya mengalihkan perhatian untuk sementara.</p>
<p><strong>Menghapus kesalahan</strong><br />
Jangan terlalu bersedih saat duka datang mendera. hehehe&#8230;. Tetaplah bersabar, karena pada saat itu diam-diam Allah sedang menghapus berbagai kesalahan kita.</p>
<p><strong>Menaikkan derajat kita</strong><br />
Kita belum menjadi orang yang benar-benar kuat sebelum melewati berbagai macam ujian. Begitulah cara Allah meningkatkan derajat kita, ujian atau cobaan yang datang kepada kita adalah suatu ujian yang akan menaikkan “peringkat” kita.</p>
<p>Percayalah bahwa Allah tidak akan menguji seorang hambanya melainkan sesuai dengan kemampuan hambanya tersebut. Jadi sebenarnya tidak ada permasalahan yang tidak mungkin kita lewati. Karena itu, Tersenyumlah Sahabatku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tersenyumlah Sahabatku</title>
		<link>http://berlizone.com/tersenyumlah-sahabatku.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/tersenyumlah-sahabatku.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 16:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Senin 23 Juni 2008, entah kenapa tiba-tiba hasrat ingin pulang mengusik ketenangan jiwa. Hehehe..  Salah satu alasannya mungkin karena sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Yaah, walaupun harus saya akui bahwa misi utamanya adalah meminta jatah “uang mingguan”. Hehehe. Sayangnya keputusan untuk pulang bisa dibilang kurang tepat, karena ternyata bunda tercinta yang berperan sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin 23 Juni 2008, entah kenapa tiba-tiba hasrat ingin pulang mengusik ketenangan jiwa. Hehehe..  Salah satu alasannya mungkin karena sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Yaah, walaupun harus saya akui bahwa misi utamanya adalah meminta jatah “uang mingguan”. Hehehe. Sayangnya keputusan untuk pulang bisa dibilang kurang tepat, karena ternyata bunda tercinta yang berperan sebagai “Departemen Keuangan” di rumah saya sedang dinas ke Malaysia.</p>
<p>Sampai di rumah, langsung disuguhkan oleh dua buah pesan yang ditujukan untuk saya. Pertama adalah pesan agar saya segera memperpanjang KTP yang sudah tewas masa berlakunya. Dan yang Kedua adalah kartu pos yang dikirim oleh <a href="http://azkamadihah.wordpress.com/" target="_blank">azka</a> dari Damascus – Syria. Yap, saya ucapkan terima kasih buat azka yang sudah meluangkan waktu dan uangnya, saya anggap itu sebagai kado ulang tahun. Gambar di kartu postnya bagus, apalagi klo ditambah oleh-oleh lainnya. Hehehe… Ntar deh gantian saya kirim kartu pos dari Bekasi klo inget. Hehehe…</p>
<p>Anyway, bicara tentang kado, Alhamdulillah ternyata cukup banyak juga yang antusias memberikan kado. Hehehe… Terima kasih untuk semuanya, semoga Allah memberikan balasan yang terindah untuk kita semua.</p>
<p>Sekarang kita masuki topic utama…</p>
<p><span id="more-60"></span>Teringat akan sebuah rangkaian kata-kata indah yang membentuk kalimat “Sebaik-baiknya seorang sahabat ialah orang yang selalu menunjukkan yang baik untukmu”. Sederhana namun penuh makna, begitulah kalimat tersebut sehingga mampu kita jadikan cermin untuk merefleksikan diri kita sebagai seorang sahabat.</p>
<p>Sudahkah kita menunjukkan yang baik untuk sahabat-sahabat kita?? Begitu besar makna seorang sahabat, karena dari sahabat terdekatnya lah seseorang dapat diketahui kebaikan dan keburukannya. Persahabatan sangat identik dengan persaudaraan, dan sempurnanya seseorang  ialah yang mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.</p>
<p>Jika belajar dari kedua bola mata, sungguh banyak yang bisa kita dapat tentang makna persahabatan darinya. Apakah kamu tahu hubungan antara 2 bola mata kita? Mereka berkedip bersama, bergerak bersama, menangis bersama, melihat bersama dan beristirahat bersama meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain&#8230; Persahabatan seharusnya seperti itu&#8230; kehidupan bagai neraka tanpa sahabat..</p>
<p>Karena itu, Tersenyumlah Sahabat ku !? Aku mencintaimu karena Allah…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/tersenyumlah-sahabatku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu yang Telah Berlalu</title>
		<link>http://berlizone.com/waktu-yang-telah-berlalu.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/waktu-yang-telah-berlalu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 16:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Sering saya dengar sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa hal yang paling dekat dengan kita  namun tidak akan pernah kita raih apalagi kita ubah adalah waktu yang telah berlalu. Sederhana namun dalam makna dibaliknya, yap! Dengan sepenggal kalimat itu kita diingatkan kembali untuk bersikap lebih bijak terhadap waktu yang telah Allah berikan untuk kita. 
“Demi masa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering saya dengar sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa hal yang paling dekat dengan kita  namun tidak akan pernah kita raih apalagi kita ubah adalah waktu yang telah berlalu. Sederhana namun dalam makna dibaliknya, yap! Dengan sepenggal kalimat itu kita diingatkan kembali untuk bersikap lebih bijak terhadap waktu yang telah Allah berikan untuk kita. </p>
<p><em>“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikkan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”  (QS. 103: 1-3)</em></p>
<p>Ya Allah, hari ini telah Engkau genapkan umurku menjadi 20 tahun, semoga aku bukanlah orang yang merugi yang menjadikan sisa waktuku dengan sia-sia. </p>
<p><span id="more-58"></span></p>
<p>Anyway, Terima Kasih buat yang sudah menyempatkan waktu, pulsa, dan hartanya untuk mendoakan mengucapkan selamat, dan memberikan kadonya kepada saya.Hehehe… Karena belum semuanya saya balas, sebagai gantinya akan saya pajang sms-sms dari kalian wahai sahabatku, semoga kalian bisa menjadi lebih terkenal setelah ini. Hehehe…</p>
<p>Diurutkan berdasarkan waktu pengiriman:</p>
<p><em>Aslm, Bro met milad ye.. Semoga semua keinginan bisa terwujud di taun ini.. Pokoke all the best 4 u.. Semoga sukses dunia akhirat.. Nb: jangan lupa traktiran..Hehe..<strong><br />
(Bayu – 085613xxxxx)</strong></em></p>
<p><em>Berli, happy bday ya. Welcome to 20’s something club, hehe. Wish U all The Best and get ready for Saturday party.hehe</em> <strong><br />
(LC – 085678xxxxx)</strong></p>
<p><em>Bangun2,, met milady a.. dah 20 niy, dah bapak2..hehe.. semoga sukses semuanya..amien</em> <strong><br />
(Ocha – 085224xxxxx)</strong></p>
<p><em>Ya Allah berkahi pagi hari ini dengan indahnya bersyukur kepadaMu, hiasi setiap Tindakan kami menjadi cerminan keimanan kami , Yaa robbana, jadikan pagi ini menjadi pagi yang menghidupkan jiwa yang lemah, membangkitkan semangat! Dalam beramal dan berjuang di jalanMu…Ikhlaskan ya robb… Karena semua tidak akan berarti tanpa keikhlasan, mengharap ridhoMu… met milad akhi</em>. <strong><br />
(Kalia – 085691xxxxx)</strong></p>
<p><em>Hape bday to mas bei… Ooo ada yang udah 20 tahun, ada yang udah tua.. semoga di umur 20 nie: tambah sukses, tambah rajin ibadahnya, sehat selalu.. Pokoeeh be de best bwt mas dah…. DiTunggu traktirannya ya..<strong> </strong></em><strong><br />
(Lita – 085698xxxxx)</strong></p>
<p><em>Happy Birthday BERLI, Alhamdulillah.. Umur telah bertambah dan keriput2 akan mulai muncul.. Semoga diumur sekarang ini, anda bisa tambah kuat imannya, diberi kesehatan sekluarga, tambah sabar, tambah dewasa, tambah sukses, tambah bahagia.. dan semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud.. </em><strong><br />
(??? –0856927xxxx)</strong> maaph saya belum memasukkan nomornya. Hehe…</p>
<p><em>Hei yang berulang tahun. Sukses selalu ya, semoga harapan kedepan dapat tercapai serta cita-citanya tersukseskan. (amin).</em><br />
<strong>(Irvan –085691xxxxx)</strong></p>
<p><em>TUNGGU! Ndari pengen ngucapin.. “ALLES GUTE ZUM GEBURTSTAG”</em><br />
<strong>(Ndarie – 085673xxxxx)</strong></p>
<p><em>Woi ber.. Happy Birthday yo.. In this age I wish u could be closer to Allah SWT, be a good boy for your parents, n be a better person in everything u do.. All of the point are just mean that I wish the best for U. Amien.. Jangan lupa traktirannya ye.. Pokonya gw tagih pas gw pulang nanti.. Hehe :P CU again bro</em><br />
<strong>(Radit – 085692xxxxx)</strong></p>
<p><em>Aslm ber lagi milad ya? Kalo iya happy milad ya.. semoga Allah selalu memberkahi usiamu, memudahkan urusan2mu, meringankan langkah perjuangan dakwahmu, dan menjadikanmu semakin sholeh. Amin.. </em><br />
<strong>(Fika – 085659xxxxx) </strong></p>
<p>Dsb… Cape ngetiknya…hohoho…</p>
<p>Wah, sepertinya cukup dulu, cape ngetiknya. Hehehe… Untuk yang selain via sms, karena males mengetikkan isi pesannya, lain kali aja ya ditulisnya? Hehe…  Jangan khawatir buat yang belum sempat mengucapkan selamat, karena kesempatan untuk memberikan kado masih terbuka. Buat yang sudah mengucapkan selamat tapi belum ngasih kado atau hadiah, masih ada ditunggu untuk itu. Hehehe…</p>
<p>**Bletakkk digebukin sekelurahan..hehe…</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/waktu-yang-telah-berlalu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susahnya Memaafkan dan Meminta Maaf</title>
		<link>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-dan-meminta-maaf.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-dan-meminta-maaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 12:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[Meminta Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya pulang ke rumah…Hehehe tidak penting ya’?? Tenang-tenang, bukan itu yang mau saya ceritakan sebenarnya. Secara tidak sengaja saya mendengar pembicaraan ayah saya dengan seseorang yang berbicara menggunakan jasa handphone. Awalnya saya tidak peduli, tapi belakangan akhirnya saya menyadari bahwa rupanya orang di telpon tersebut sedang meminta saran kepada ayah saya. Sepertinya si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Hari ini saya pulang ke rumah…Hehehe tidak penting ya’?? Tenang-tenang, bukan itu yang mau saya ceritakan sebenarnya. Secara tidak sengaja saya mendengar pembicaraan ayah saya dengan seseorang yang berbicara menggunakan jasa handphone. Awalnya saya tidak peduli, tapi belakangan akhirnya saya menyadari bahwa rupanya orang di telpon tersebut sedang meminta saran kepada ayah saya. Sepertinya si penelpon menceritakan konflik yang terjadi antara orang terdekatnya (sebut saja oknum A) dengan seseorang lainnya yang juga adalah orang yang dikenal baik oleh si penelpon (sebut saja Oknum B). Tidak tahu bagaimana detail masalahnya, tapi yang saya tangkap dari pembicaraan itu adalah ayah saya memberi saran kepada si penelpon agar dia meminta oknum A itu untuk meminta maaf kepada oknum B. Namun si penelpon juga mengatakan bahwa dia sudah berkali-kali meminta oknum A untuk melakukan itu, bahkan tidak hanya si Penelpon, orang-orang terdekat oknum A lainnya pun sudah mengatakan hal serupa namun hasilnya tetap nihil. Pembicaraan ditelpon berakhir setelah si Penelpon meminta ayah saya untuk meminta oknum A untuk meminta maaf kepada oknum B dengan anggapan bahwa ayah saya adalah orang yang cukup dihormati dan paling didengar omongannya oleh kedua belah oknum.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Bicara soal maaf memaafkan, dari pembicaraan singkat itu saya mendapatkan satu kesimpulan bahwa “ternyata minta maaf itu susah ya’??” Entah apa alasan seseorang untuk enggan meminta maaf kepada orang lain setelah melakukan kesalahan. Entah karena ego, merasa rendah karena meminta maaf, atau hanya karena gengsi. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Ternyata bukan hanya meminta maaf yang susah, rupanya memaafkan kesalahan seseorang pun juga susah. Sakit hati yang mendalam terkadang menjadi alasan untuk tidak memaafkan kesalahan seseorang. Terkadang yang namanya kesalahan itu terlihat ironis ya?? Bayangkan jika eratnya ukhuwah yang terjalin antara dua orang selama bertahun-tahun harus lenyap atau retak karena satu hal bernama kesalahan. Beberapa ada yang berpendapat bahwa sudah fitrahnya manusia untuk lebih melihat keburukan yang didapatkannya dari orang lain ketimbang kebaikkan yang dia terima dari orang yang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-48"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Ternyata, masalah tidak selesai begitu saja sekalipun seseorang sudah berani untuk meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Ibarat sebuah papan kayu yang akan tetap berlubang akibat paku yang menancap, sekalipun paku tersebut sudah dicabut. Sekalipun sudah saling memaafkan, terkadang kita masih menyisakan lubang-lubang bekas kesalahan itu di hati kita. Bahkan ada seseorang yang menerapkan syarat dan ketentuan khusus dalam memaafkan seseorang. Tidak jarang yang mengatakan bahwa “Baiklah saya memaafkan kamu tapi jangan harap hubungan kita bisa sebaik dulu”. Jika dipikir kembali, bukankah itu sama saja membiarkan lubang kesalahan terbuka?? Bahkan dengan berkata seperti itu justru kita sendiri yang seolah tidak menginginkan untuk menutup lubang itu. Banyak juga ternyata yang masih jarang tersenyum, atau hanya sekedar menyapa kepada orang yang pernah membuat kesalahan kepadanya sekalipun sudah mengaku meminta maaf.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Lalu dimana inti permasalahan seputar<span>  </span>maaf memaafkan itu?? Ini hanya pendapat pribadi, namun sepertinya hal tersebut disebabkan karena kita menganggap meminta maaf dan memaafkan itu adalah sebagai suatu solusi akhir atau tujuan, bukan menganggapnya sebagai awal yang baru untuk mengembalikan ukhuwah yang selama ini kita bangun. Pendapat yang menganggap bahwa dengan meminta maaf maka semuanya selesai adalah hal yang sering menjadi alasan utama penyebabnya. Benar, meminta maaf bukanlah tujuan akhir, justru itu adalah langkah baru yang kita mulai. Ibarat paku yang menancap pada papan, meminta maaf dan memaafkan<span>  </span>diibaratkan baru mencabut paku tersebut,<span>  </span>masih banyak yang harus dilakukan untuk menutup lubang yang ada pada papan kayu tersebut.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman'">Jadi buat yang dihatinya masih ada paku-paku kesalahan yang menancap segeralah mencabut paku tersebut, berusahalah sekuat tenaga untuk menambal lubang yang ada akibat paku tersebut.<o:p></o:p></span></p>
<p><!-- Begin: KlikSaya.com --><script src="http://scr.kliksaya.com/js-ad.php?zid=167" type="text/javascript"> </script><!-- End: KlikSaya.com --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/susahnya-memaafkan-dan-meminta-maaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
