<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah Catatan Harian Singkat &#187; Motivasi</title>
	<atom:link href="http://berlizone.com/category/motivasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berlizone.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 13:31:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tips Khatam Al-Qur&#8217;an selama Ramadhan</title>
		<link>http://berlizone.com/tips-khatam-al-quran-selama-ramadhan.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/tips-khatam-al-quran-selama-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 08:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan sudah menginjak hari ketiga, yah paling tidak itu sewaktu tulisan ini dibuat. hehehe&#8230; Banyak hal yang membedakan Ramadhan dengan 11 bulan lain, yang paling signifikan adalah kualitas dan kuantitas ibadah kita. Beberapa orang bahkan membuat target-target ibadah Ramadhan. Dan tulisan saya kali ini topiknya tidak jauh-jauh dari target Ramadhan. Jangan khawatir! saya tidak akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://berlizone.com/wp-content/uploads/2009/08/quran.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-329" style="border: 0pt none; margin: 5px;" title="Al-Qur'an" src="http://berlizone.com/wp-content/uploads/2009/08/quran-300x251.jpg" alt="Al-Qur'an" width="240" height="201" /></a>Ramadhan sudah menginjak hari ketiga, yah paling tidak itu sewaktu tulisan ini dibuat. hehehe&#8230; Banyak hal yang membedakan Ramadhan dengan 11 bulan lain, yang paling signifikan adalah kualitas dan kuantitas ibadah kita. Beberapa orang bahkan membuat target-target ibadah Ramadhan. Dan tulisan saya kali ini topiknya tidak jauh-jauh dari target Ramadhan. Jangan khawatir! saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang target Ramadhan saya tahun ini, selain membosankan bagi pembaca mungkin juga tidak bagus untuk saya sendiri karena berurusan langsung dengan kelurusan niat saya kedepannya. Hehehe&#8230;</p>
<p>Terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut salah seorang adik kelas, pertanyaannya sederhana dan kurang lebih bunyinya seperti ini: &#8220;Ka biar bisa khatam Qur&#8217;an selama Ramadhan itu apa aja sih kiat-kiatnya??&#8221;.<br />
Dan dari pertanyaan itulah saya merasa terpanggil untuk membenturkan jemari saya dengan keyboard laptop berwarna hitam ini guna menuliskan tips mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an dalam sebulan. hehe..</p>
<p>Sebelum lanjut, perlu saya tekankan bahwa tips ini diperuntukkan bagi teman-teman yang belum tahu Rahasia mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an selama Ramadhan. Bagi yang sudah tahu atau yang sudah terbiasa mengkhatamkan kitab Allah ini berkali-kali dalam sebulan ya banyak-banyak lah bersyukur dan jangan lupa ajak teman-temannya ngaji bareng. hehe..</p>
<p><span id="more-328"></span>Ok, tips pertama adalah kenali medan perang Anda. Dalam hal ini, 30 juz Al-Qur&#8217;an lah yang menjadi menjadi medan perang Anda. Cara untuk mengenali mudah yaitu dengan membuka Al-Qur&#8217;an Anda dan hitung jumlah halaman totalnya. Contoh: Saya memakai Al-Qur&#8217;an terbitan Syamil, dan jumlah 30 juznya adalah 604 halaman. Banyak ya?? Ya memang, tapi jangan khawatir karena ternyata 1 juz Al-Qur&#8217;an hanya sebanyak 21 halaman saja. Masih terlihat banyak?? yasudah konversi saja ke satuan lembar, maka 1 juz = 10 lembar 1 halaman, anggaplah 1 halaman ibarat bonus yang bisa diabaikan karena pasti selalu dibaca. hehe..  Jadi, kesimpulan tips pertama adalah percayalah bahwa 1 juz Al-Qur&#8217;an hanya 10 lembar saja.</p>
<p>Tips kedua adalah, tentukan titik-titik waktu yang paling menyenangkan untuk membaca Al-Qur&#8217;an, seperti misalnya pagi hari, sehabis mandi, dan lain sebagainya. Usahakan tentukan lebih dari satu titik, lebih banyak titik waktu lebih baik. Bingung menentukan titik?? Yasudah, ikuti saja titik-titik waktu yang biasa saya gunakan yaitu sesudah/sebelum melakukan sholat 5 waktu. Jadi, kesimpulan tips kedua adalah jadikan waktu sesudah/sebelum sholat sebagai waktu-waktu yang paling menyenangkan untuk membaca Al-Qur&#8217;an, maka seandainya n adalah variabel banyaknya waktu nyaman maka didapat n = 5.</p>
<p>Tips ketiga adalah alokasikan tips pertama ke dalam tips kedua. Di sini perlu sedikit ilmu matematika yang biasa disebut dengan pembagian. Pertanyaan yang harus dijawab di tips yang ketiga adalah &#8220;Berapa jumlah lembar yang harus dibaca dalam satu titik nyaman membaca Al-Qur&#8217;an yang dimodelkan dengan L = B/n ??, dimana B adalah jumlah lembaran dalam 1 juz, dan n adalah banyaknya waktu nyaman.&#8221; Dari Tips pertama dan kedua didapat persamaan B = 10, dan n = 5, jadi L = 10/5 = 2.</p>
<p>Terakhir simpulkan sendiri makna angka 2 yang didapat dari Tips ketiga tersebut. Malas menyimpulkan?? Ya,,ya,,OK biar saya yang menyimpulkan. Artinya Cukup dengan membaca 2 lembar (4 halaman) Al-Qur&#8217;an setiap sehabis sholat selama bulan Ramadhan ini maka Anda akan mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an satu kali di Ramadhan ini.</p>
<p>Sekedar tambahan, syarat wajib untuk menjalankan tips ini adalah KONSISTEN. Konsisten untuk membaca Al-Qur&#8217;an minimal 2 lembar (4 halaman) setiap sehabis sholat.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan dengan yang ingin mengkhatamkan lebih dari satu kali selama Ramadhan ini. Ada 2 cara yang sama mudahnya : Pertama, Kalikan jumlah lembar yang dibaca (4 lembar untuk 2X Khatam, atau sekalian 10 lembar untuk 5 kali khatam). Kedua, tambah titik waktu nyaman untuk membaca Al-Qur&#8217;an sebanyak-banyaknya (misal: tidak hanya sehabis sholat wajib, tapi juga sehabis sholat sunah, sehabis mandi, atau sehabis makan. hehehe).</p>
<p>Semoga Bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/tips-khatam-al-quran-selama-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog dan Konsistensi</title>
		<link>http://berlizone.com/blog-dan-konsistensi.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/blog-dan-konsistensi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 15:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Konsistensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Bulan sudah memasuki bagian kedua pada tahun ini, entah apa alasannya namun nampaknya baru sekarang saya mendapati kesempatan membuat tulisan baru di rumah maya saya ini. Satu hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari &#8220;tak terurusnya&#8221; blog ini adalah tentang sebuah arti dari konsistensi.
Dahulu, dan mungkin pernah saya katakan pada tulisan saya yang lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img style="margin: 5px;" title="Wheel" src="http://th01.deviantart.com/fs11/300W/i/2006/181/1/c/Old_wheel_by_ihaque.jpg" alt="browse.deviantart.com" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">browse.deviantart.com</p></div>
<p>Bulan sudah memasuki bagian kedua pada tahun ini, entah apa alasannya namun nampaknya baru sekarang saya mendapati kesempatan membuat tulisan baru di rumah maya saya ini. Satu hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari &#8220;tak terurusnya&#8221; blog ini adalah tentang sebuah arti dari konsistensi.</p>
<p>Dahulu, dan mungkin pernah saya katakan pada tulisan saya yang lain di blog ini, saya pernah berniat untuk paling tidak dalam seminggu saya harus menuliskan sebuah tulisan untuk dipublish di sini. Mungkin terdengar terlalu naif jika dilihat sekarang, dan tak akan saya pungkiri bahwa untuk hal kecil seperti ini rasanya apa yang terjadi cukup jauh dari kata konsisten.</p>
<p>Teringat perkataan murabbi saya yang intinya menyampaikan bahwa proses pemelajaran yang terbaik adalah ketika kita mengajarkan ilmu yang kita pelajari kepada orang lain. Perkataan tersebut memang benar adanya karena saya sendiri sering mengalaminya termasuk dalam hal konsistensi blogging.</p>
<p><span id="more-296"></span>Pernah saya dapatkan sebuah email masuk dari salah seorang adik kelas saya yang meminta saran tentang bagaimana caranya untuk membuat tulisan yang baik. Sejujurnya saya tak menyangka bisa mendapatkan permintaan seperti itu, karena saya sendiri belum merasa layak disebut sebagai penulis yang baik. Saat itu saya membalas emailnya dengan jawaban yang pernah saya dapatkan dari orang lain untuk diri saya sendiri. Namun, pada saat itulah saya seolah diingatkan kembali untuk menjaga konsistensi saya dalam menuangkan tulisan di sini. Ketika saya ditanya, maka saya akan mencari jawaban yang terbaik, dan saat saya menemukan jawaban untuk pertanyaan itulah saya diingatkan kembali kepada apa-apa yang sebenarnya telah saya ketahui namun belum diterapkan dengan baik.</p>
<p>Hal lain yang pernah saya alami adalah ketika saya diminta menjadi pengisi acara dalam rangkaian kegiatan &#8220;Studi Islam Awal Kuliah&#8221; (SIWAK) yang diadakan FUKI. Tema acara yang harus saya isi adalah tentang Blog. Bagian paling mengesankan adalah ketika saya menyusun slide yang akan saya presentasikan. Saat itu yang saya lakukan adalah mencari isi materi dari berbagai macam buku, situs atau blog, dan berdasarkan pengalaman saya. Hal seperti itu lah yang membuat saya seolah kembali belajar dan sekaligus diingatkan tentang ilmu yang sebenarnya sudah saya dapatkan. Memang pada akhirnya saya tidak jadi menjadi pengisi materi karena ada urusan mendadak sehingga berhalangan hadir dan meminta salah seorang teman untuk menggantikan saya sekaligus mengirimkan slide yang saya buat, namun hampir bisa dipastikan saya tidak akan belajar banyak jika saya tidak diminta untuk mengisi acara tersebut.</p>
<p>Masih banyak yang telah saya alami disamping yang sudah saya sebutkan sebelumnya, namun pada intinya saya ingin menyampaikan bahwa dahulu saya menjaga konsistensi saya dalam membuat tulisan dengan mengajak orang sekitar untuk melakukan hal serupa. Dan hal tersebut akan saya lakukan kembali untuk tujuan yang sama. Jadi kembali ke perkataan awal &#8220;Pemelajaran yang terbaik adalah dengan mengajarkan orang lain ilmu yang telah kita dapatkan&#8221;.</p>
<p>Mungkin hanya itu yang ingin saya sampaikan di sini, anggaplah ini sebagai tulisan awal yang menunjukkan bahwa saya masih menikmati dunia tulis-menulis dan blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/blog-dan-konsistensi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemilik Budaya Meneliti</title>
		<link>http://berlizone.com/sang-pemilik-budaya-meneliti.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/sang-pemilik-budaya-meneliti.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 06:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Milikilah budaya meneliti sekalipun anda bukan seorang peneliti&#8221;, begitulah kata seorang Profesor yang biasa mengajar saya di mata kuliah  Digital Image Processing atau bahasa kerennya Pengolahan Citra. Hehe.. Dan harus diakui perkataan beliau tersebut cukup memotivasi siapapun yang mendengarnya.
Lalu siapakah yang membutuhkan budaya meneliti?? Kembali ke perkataan diatas, dari situ dapat kita simpulkan bahwa bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 279px"><img style="border: 0pt none; margin: 5px;" title="Chemistry" src="http://fc36.deviantart.com/fs17/f/2007/134/9/f/Chemistry_by_NoiZzyLt.jpg" alt="" width="269" height="179" /><p class="wp-caption-text">http://noizzylt.deviantart.com</p></div>
<p>&#8220;Milikilah budaya meneliti sekalipun anda bukan seorang peneliti&#8221;, begitulah kata <a title="Ibu Aniati" href="http://www.cs.ui.ac.id/staf/aniati/" target="_blank">seorang Profesor</a> yang biasa mengajar saya di mata kuliah  <em>Digital Image Processing</em> atau bahasa kerennya Pengolahan Citra. Hehe.. Dan harus diakui perkataan beliau tersebut cukup memotivasi siapapun yang mendengarnya.</p>
<p>Lalu siapakah yang membutuhkan budaya meneliti?? Kembali ke perkataan diatas, dari situ dapat kita simpulkan bahwa bukan hanya seorang peneliti yang harus mempunyai budaya meneliti, tapi siapa pun membutuhkan budaya tersebut.</p>
<p>Benarkah seperti itu?? Mari kita coba buktikan dengan pendekatan yang berbeda. Pada dasarnya penelitian dilakukuan ketika terdapat suatu masalah yang diketahui, dan masalah tersebutlah yang akan dicarikan suatu solusinya. Orang yang memiliki budaya meneliti bukan hanya mampu mengindetifikasikan suatu masalah namun juga berusaha mencari solusinya. Budaya meneliti sangat berguna untuk menemukan suatu masalah dan mencari solusinya, sehingga dibutuhkan oleh orang-orang yang mempunyai masalah. Lalu pertanyaannya adalah, &#8220;Adakah seseorang yang sama sekali tidak mempunyai masalah dalam hidupnya??&#8221; Saya yakin hampir semua akan menjawab &#8220;Tidak&#8221;. Jadi, cukup relevan jika saya menyimpulkan Semua Orang membutuhkan budaya meneliti.</p>
<p><span id="more-245"></span><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2297039045488160";
/* bagian isi tulisan */
google_ad_slot = "9306173787";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script><br />
Ambil contoh yang sederhana, yaitu tentang seorang mahasiswa yang sering terlambat datang ke kelas. Jika dia memiliki budaya meneliti maka pasti dia akan menyadari bahwa itu adalah masalah, meneliti untuk mencari tahu penyebab masalahnya, lalu berusaha mencari solusi untuk masalahnya itu. Sebaliknya, tanpa budaya meneliti yang cenderung dia lakukan adalah menganggap masalahnya itu sebagai suatu kewajaran dan berharap akan berlalu atau selesai begitu saja, bahkan yang paling parah adalah dia tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah masalah.</p>
<p>Dengan scope yang lebih luas lagi, misalnya seperti masalah kemacetan kota, musibah banjir, bencana kelaparan, atau bahkan kemiskinan. Sudahkah masalah-masalah tersebut diteliti dengan benar untuk dicari solusinya?? Atau hanya dianggap sebagai suatu kewajaran yang akan berlalu begitu saja?? Semoga para pemimpin bangsa dan siapa saja yang mengaku wakil rakyat memiliki budaya meneliti untuk masalah bangsa tersebut. hehe..</p>
<p>Yaah, ternyata memang budaya meneliti tidak hanya dibutuhkan oleh mahasiswa yang sering bangun kesiangan atau pemimpin bangsa, tapi juga dibutuhkan oleh semua orang. Sang Pemilik Budaya Meneliti lah yang mampu menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang terbaik.</p>
<p>Semoga tulisan singkat ini mampu menanamkan budaya meneliti bagi siapapun yang membacanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/sang-pemilik-budaya-meneliti.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Ada Duka ??</title>
		<link>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 02:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[duka]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[“Katakanlah tidak akan pernah ada satu musibah yang menimpa kita kecuali telah Allah tetapkan pada kita, dan hanya kepada Allah jualah orang-orang beriman bertawakal.” (at-Taubah: 51)
Orang yang bahagia seringkali diidentikkan dengan hal-hal baik yang diterima oleh orang tersebut. Namun sebenarnya orang yang bahagia itu bukan berarti hanya siap menerima yang enak-enak saja, tetapi juga yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“Katakanlah tidak akan pernah ada satu musibah yang menimpa kita kecuali telah Allah tetapkan pada kita, dan hanya kepada Allah jualah orang-orang beriman bertawakal.” (at-Taubah: 51)</em></p>
<p>Orang yang bahagia seringkali diidentikkan dengan hal-hal baik yang diterima oleh orang tersebut. Namun sebenarnya orang yang bahagia itu bukan berarti hanya siap menerima yang enak-enak saja, tetapi juga yang eneg-eneg. Hehehe&#8230; Bicara tentang hal yang enak-enak sudah jelas banyak orang yang sudah siap menerimanya, tapi yang membuat eneg (yang pahit) belum tentu setiap orang siap menerimanya. Padahal keduanya selalu datang bergantian ibarat roda yang berputar mengiringi langkah hidup kita.</p>
<p><em>“Dan masa kejayaan dan kehancuran itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran” (Ali Imran: 140)</em></p>
<p>Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari bagian pahit dari kehidupan. Ada yang harus kehilangan harta, ada yang harus kehilangan orang tercinta, atau ada pula yang harus kehilangan anggota tubuh. Itu semua adalah bagian dari kehidupan kita. Semuanya harus kita terima seperti kita menerima bagian yang manis dalam hidup ini.</p>
<p>Lalu mengapa harus ada duka dalam hidup ini?? Mengapa harus diturunkan musibah?? Bukankah dunia ini indah tanpa duka??</p>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p>Sahabatku, tidak ada satupun kejadian dan penciptaan di alam ini yang sia-sia. Bukan tanpa alasan musibah itu datang. Walaupun terdapat musibah yang bisa kita ambil hikmahnya seketika, ataupun yang kita belum bisa memahaminya. Jika kita berpikir lebih bijak serta merenungkannya, paling tidak ada beberapa alasan mengapa Allah memberikan musibah kepada kita.</p>
<p><strong>Mengingatkan kembali bahwa kita adalah manusia</strong><br />
Orang yang berjiwa positif akan berpikir sifat manusia yang lemah, serba terbatas, dan butuh bantuan orang lain. Ia akan semakin tunduk dalam kekuasaan Allah dan lenyap sikap sombong, takabur dan keras kepalanya.</p>
<p><strong>Sebagai ujian ketabahan hati</strong><br />
<em> “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155).</em><br />
Rasanya ayat tersebut sudah menjelaskan dengan jelas alasan kenapa harus ada duka. Hehe..</p>
<p><strong>Sebagai pelajaran yang bisa kita petik</strong><br />
Tidaklah Allah menciptakan  kegagalan dan musibah melainkan untuk diambil hikmahnya. Dalam setiap musibah ada pelajaran yang bisa kita petik. Melarikan diri dari kegagalan atau musibah tidaklah menyelesaikan masalah, karena langkah itu hanya mengalihkan perhatian untuk sementara.</p>
<p><strong>Menghapus kesalahan</strong><br />
Jangan terlalu bersedih saat duka datang mendera. hehehe&#8230;. Tetaplah bersabar, karena pada saat itu diam-diam Allah sedang menghapus berbagai kesalahan kita.</p>
<p><strong>Menaikkan derajat kita</strong><br />
Kita belum menjadi orang yang benar-benar kuat sebelum melewati berbagai macam ujian. Begitulah cara Allah meningkatkan derajat kita, ujian atau cobaan yang datang kepada kita adalah suatu ujian yang akan menaikkan “peringkat” kita.</p>
<p>Percayalah bahwa Allah tidak akan menguji seorang hambanya melainkan sesuai dengan kemampuan hambanya tersebut. Jadi sebenarnya tidak ada permasalahan yang tidak mungkin kita lewati. Karena itu, Tersenyumlah Sahabatku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/mengapa-harus-ada-duka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan: Istirahat Sejenak untuk Memulai yang Baru</title>
		<link>http://berlizone.com/liburan-istirahat-sejenak-untuk-memulai-yang-baru.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/liburan-istirahat-sejenak-untuk-memulai-yang-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 11:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Liburan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Libur telah tiba, akhirnya semester 4 sudah berlalu, tidak terasa sudah 2 tahun saya menjadi Mahasiswa. Hehehe&#8230;
Eniwei, Selamat liburan buat yang udah liburan dan selamat menempuh hidup baru buat yang sudah merasakannya. Lho..
Setelah membaca tulisan dari salah seorang yang sudah mengklaim dirinya sudah memasuki masa liburan, tiba-tiba hasrat ingin menyentuh blog ini kembali muncul. So’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Libur telah tiba, akhirnya semester 4 sudah berlalu, tidak terasa sudah 2 tahun saya menjadi Mahasiswa. Hehehe&#8230;<br />
Eniwei, Selamat liburan buat yang udah liburan dan selamat menempuh hidup baru buat yang sudah merasakannya. Lho..<br />
Setelah membaca tulisan dari <a title="Yuan Area" href="http://yuanarea.blogspot.com/2008/06/liburan-pun-dimulai.html" target="_blank">salah seorang yang sudah mengklaim dirinya sudah memasuki masa liburan</a>, tiba-tiba hasrat ingin menyentuh blog ini kembali muncul. So’ kali ini saya akan memberikan sedikit tips untuk menghadapi liburan, bercanda?? Hohoho..tentu tidak, saya serius..</p>
<p><strong>Bersyukur dulu ah</strong><br />
Yap, benar!! Tiada hari tanpa rasa syukur, itulah hal yang harus dimiliki setiap orang untuk menjadi manusia seutuhnya. Lalu bersyukur karena apa?? Well, sangat banyak alasan untuk mensyukuri apa-apa yang kita dapatkan sampai saat ini. Diberikan umur sampai saat ini misalnya. Lalu bagaimana jika di semester ini hasil yang kita capai kurang maksimal, tetap bersyukur kah?? Ya tentu saja, caranya dengan diiringi pikiran-pikiran positiif tentunya. Intinya sebelum memutuskan untuk tidak mensyukuri apa-apa yang kita dapatkan, cari dulu sejuta alasan untuk bersyukur. Hehehe&#8230;</p>
<p><span id="more-57"></span><strong>Beristirahat sejenak lalu bersiap untuk memulai yang baru</strong><br />
“Selalu ada sesuatu yang baru ketika yang lama sudah berakhir”, pernah dengar atau membaca?? Tentu saja pernah, barusan kan kebaca tulisannya. Hehehe&#8230;. Yah, benar liburan ini hanya suatu tanda yang mengakhiri momen lama tapi sekaligus memulai sesuatu momen baru. Intinya jangan merasa ini adalah akhir dari segalanya. Hehe.. ga’ nyambung. Ibarat mobil F1 yang berhenti di Pit stop, liburan ini adalah momen yang baik untuk digunakan sebagai momen berhenti sejenak dari padatnya aktifitas kita sebelumnya. Silahkan lakukan apa saja yang bisa dijadikan menu liburan, tapi jangan keterusan nanti malah ga’ inget sama “hal baru” yang menunggu di depan.</p>
<p><strong>Refleksikan dirimu dengan dirimu</strong><br />
Yap, sudah pada tahu toh klo manusia yang merugi adalah manusia yang dirinya sama dengan dirinya kemarin?? Artinya, tidak ada perubahan yang menjadikan dia menjadi lebih baik. So mari kita refleksikan diri kita dengan diri kita yang berada di momen yang baru berakhir ini.</p>
<p><strong>Momen Liburan vs Momen Pengangguran</strong><br />
Nah! terakhir, jangan jadikan momen liburan sebagai momen pengangguran. Dengan adanya liburan kita punya waktu lebih banyak untuk melakukan banyak hal. Belajar mencari nafkah misalnya. Hehehe&#8230;. So intinya jangan diisi dengan hal-hal yang sifatnya menghambur-hamburkan waktu saja, apalagi dilakukan secara iteratif sepanjang waktu liburan.</p>
<p>Yap, empat tips tadi bisa dicoba, dan jangan tanya saya dulu itu ampuh atau tidak karena sebenarnya itu lah yang akan saya lakukan di liburan ini mengingat saya adalah tipe orang yang selalu merencanakan banyak hal. Hehehe&#8230;</p>
<p>Semoga bermanfaat!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/liburan-istirahat-sejenak-untuk-memulai-yang-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah kebahagiaan itu?</title>
		<link>http://berlizone.com/apakah-kebahagiaan-itu.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/apakah-kebahagiaan-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 06:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[“Jadilah engkau ibarat seorang yang terasing atau seorang yang numpang lewat saja.” 
(Al-Hadits)
Apakah kebahagiaan itu? Sebuah pertanyaan yang sering tersirat pada hati kita sebagai manusia, namun cukup jarang terlontar dari lisan kita. Kebahagiaan itu bukanlah istana Abdul Malik ibn Marwan, bukan pula pasukan Harun ar-Rasyid, serta bukan pula harta simpanan Qarun yang melimpah.
Kebahagiaan itu menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>“Jadilah engkau ibarat seorang yang terasing atau seorang yang numpang lewat saja.” </em><br />
(Al-Hadits)</p>
<p>Apakah kebahagiaan itu? Sebuah pertanyaan yang sering tersirat pada hati kita sebagai manusia, namun cukup jarang terlontar dari lisan kita. Kebahagiaan itu bukanlah istana Abdul Malik ibn Marwan, bukan pula pasukan Harun ar-Rasyid, serta bukan pula harta simpanan Qarun yang melimpah.</p>
<p>Kebahagiaan itu menurut para sahabat adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan. Kebahagiaan seseorang bisa terlihat dari pemahamannya terhadap Rabb-nya, kejujurannya, hukum-hukum yang disimpulkannya, sikap wara’-nya dan ibadahnya.</p>
<p><span id="more-54"></span>Kebahagiaan itu tidak terletak pada cek yang dicairkan, tidak pada kendaraan yang dibeli, bukan pada wangi bunga yang semerbak, bukan pula pada kain yang dibentangkan.</p>
<p>Kebahagiaan itu adalah keriangan hati, karena kebenaran yang dihayatinya. Kebahagiaan adalah kelapangan dada, karena prinsip yang menjadi pedoman hidupnya. Juga, kebahagiaan adalah ketenangan hati, karena kebaikan di sekelilingnya.</p>
<p>Anggapan kita, ketika telah berhasil memperluas rumah, ketika bisa memperbanyak barang, dan ketika berhasil menumpuk semua perabotan dan apa saja yang kita senangi, kita akan bahagia, senang, dan gembira. Tanpa kita sadari semua itu justru menjadi jiwa resah, tertekan, dan hanya menambah masalah. Karena bagaimanapun, segala sesuatu akan membawa keresahan, kesuntukan, dan “pajak yang harus dibayar” untuk mendapatkannya.</p>
<p><em>&#8220;</em><em>Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.&#8221;</em> (<strong>QS Thaha: 131)</strong></p>
<p><strong></strong>Seorang reformis terbesar, Rasulullah, ternyata pernah hidup dalam kefakiran, sering membolak-balikan tubuhnya di tempat tidur karena lapar. Di saat seperti itu, tak sebiji kurma pun yang bisa ia temukan untuk menahan rasa laparnya. Meski begitu , ia bisa hidup bahagia, tak banyak tekanan, dan damai. Tapi hanya Allah lah yang tahu kebenaran semua itu.</p>
<p><em>&#8220;Dan, kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu.&#8221;</em><strong> (QS. Al-Insyirah: 2-3)</strong></p>
<p><em>&#8220;Dan, adalah karunia Allah atasmu sangat besar&#8221;</em> <strong>(QS. An-Nisa:113)</strong><br />
<em>&#8220;Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.&#8221;</em> <strong>(QS. Al-An’am:124)</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam sebuah hadits sahih disebutkan: <em>“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terbesit di dalam dadamu, dan engkau tidak suka orang lain tahu akan hal itu.”</em>. Kebaikan adalah kelegaan di hati dan ketenangan di dalam jiwa. Seorang penyair mengatakan, “<em>Kebaikan itu jauh lebih lestari walaupun zaman telah berlalu lama, tapi dosa adalah sejelek-jelek bekal yang engkau simpan.” </em></p>
<p><em></em>Orang yang berbuat baik akan selalu tenang, sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi, apa yang terdetik di dalam hati orang, benda apa saja yang bergerak, dan apa saja.</p>
<p><em>&#8220;Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakkan ditujukan kepada mereka&#8221;. </em>(<strong>QS. Al-Munafiqun: 4)</strong><br />
Mengapa? Karena mereka berbuat tidak baik. Sebuah kenyataan bahwa orang yang berbuat tidak baik akan selalu resah, pikirannya ruwet, dan tidak pernah tenang karena takut.</p>
<p>Berbuat baik dan menjauhi segala keburukan adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagiaan, untuk bisa tetap berada dalam rasa aman.</p>
<p>Wallahualam</p>
<p><em>~Banyak menyadur dan mengkaji dari buku La Tahzan karya DR. ‘Aidh al-Qarni</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/apakah-kebahagiaan-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beasiswa UI Untuk 1000 Anak Bangsa</title>
		<link>http://berlizone.com/beasiswa-ui-untuk-1000-anak-bangsa.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/beasiswa-ui-untuk-1000-anak-bangsa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 09:06:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Dengan datangnya tahun ajaran baru 2008/2009 Universitas Indonesia menyambut semua Anak-anak Bangsa Calon Pemimpin Masa Depan untuk menjalani proses pendidikan di Universitas Indonesia. Universitas Indonesia berkomitmen proses pendidikan yang diselenggarakan berkualitas sebaik mungkin untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita tercinta.Untuk itulah misi UI adalah:

Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi berbasis riset untuk pengembangan Ilmu Teknologi, Seni dan Budaya; dan
Menyelenggarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan datangnya tahun ajaran baru 2008/2009 Universitas Indonesia menyambut semua Anak-anak Bangsa Calon Pemimpin Masa Depan untuk menjalani proses pendidikan di Universitas Indonesia. Universitas Indonesia berkomitmen proses pendidikan yang diselenggarakan berkualitas sebaik mungkin untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita tercinta.<span id="more-40"></span>Untuk itulah misi UI adalah:
<ol>
<li>Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi berbasis riset untuk pengembangan Ilmu Teknologi, Seni dan Budaya; dan</li>
<li>Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi yang mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf dab kualitas kehidupan masyarakat Indonesia serta kemanusiaan.</li>
</ol>
<p>Proses pendidikan berkualitas tidaklah murah. Oleh karena itu, kebijakan UI menyempurnakan sistem pembiayaan studi sehingga mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kemampuan keuangan yang baik dapat memberikan kontribusi yang memadai bagi UI. Adapun mahasiswa program SPMB dan PPKB yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan keuangan namun memiliki kemampuan akademik dan non-akademik yang baik, disediakan beasiswa. Beasiswa Universitas Indonesia untuk Seribu Anak Bangsa diberikan berupa bantuan biaya pendidikan dalam bentuk angsuran, pengurangan, atau pembebasan biaya studi bagi mahasiswa baru yang diterima melalui SPMB atau PPKB. Beasiswa hanya berlaku setelah calon mahasiswa dinyatakan diterima di UI melalui dua jalur tersebut dan mendaftar sebagai mahasiswa UI pada tahun ajaran 2008/2009. Mendapatkan surat rekomendasi memperoleh beasiswa Universitas Indonesia untuk Seribu Anak Bangsa bukan merupakan jaminan calon mahasiswa tersebut diterima di UI. Calon mahasiswa masih harus berjuang melalui SPMB atau PPKB.Pengajuan beasiswa dilakukan secara kolektif melalui sekolah asal masing-masing disertai dengan kelengkapan berkas. Pengajuan yang tidak lengkap tidak akan diproses; dan jika diperlukan, panitia akan melakukan peninjauan lapangan Selain dikirim ke sekolah-sekolah, formulir pendaftaran dan brosur tersedia secara elektronik. Berkas-berkas kelengkapan yang dibutuhkan untuk mengajukan beasiswa ini dapat dilihat pada formulir pendaftaran dan brosur tersebut. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan lewat telepon (021)7864125 setiap jam kerja; melalui e-mail kesma.ui@gmail. com (KESMA BEM UI); atau melalui forum tanya jawab. Berkas yang diterima paling lambat dikirim 4 April (cap pos). Setelah melaui proses seleksi, pengumuman hasil seleksi calon penerima beasiswa ini akan diumumkan melalui sekolah-sekolah dan web UI. Keputusan panitia adalah final dan tidak dapat diganggugugat. Selamat memilih UI sebagai bagian dari proses belajar mencapai cita-citamu dan harapan bangsa kita tercinta. Jangan takut masuk UI, buang jauh alasan tidak memilih UI karena keterbatasan dana untuk meraih pendidikan Program Sarjana di UI. Mari kita dukung Proses Pendidikan Berkualitas dan Berkeadilan demi kemajuan Bangsa Indonesia. Jangan sia-siakan Beasiswa UI untuk 1000 Anak Bangsa ini.formulir bisa didapatkan di <a href="http://www.box.net/shared/i350wf8kkk" target="_blank" title="Formulir">sini</a>Tulisan diambil dari <a href="http://arieffurqon.com/" target="_blank" title="Blognya Arief">arieffurqon.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/beasiswa-ui-untuk-1000-anak-bangsa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Aku Sepertimu</title>
		<link>http://berlizone.com/ingin-aku-sepertimu.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/ingin-aku-sepertimu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 07:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[

Postingan kedua pekan ini, tulisan di bawah ini saya temukan di lemari kamar rumah, diketik ulang dan diedit sebagian. Yup, tulisan seorang anak SMA yang “cemburu”
kepada seseorang yang paling berpengaruh dan dekat dalam kehidupannya. Hehehe&#8230;

Teruntukmu,
Sosok yang paling aku inginkan untuk dijadikan bagian dalam diriku. 
 

Ingin aku sepertimu,
Sosok yang tidak pernah lupa untuk memulai setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 12px; line-height: normal; margin: 0px"><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: normal; font-family: Cambria;">Postingan kedua pekan ini, tulisan di bawah ini saya temukan di lemari kamar rumah, diketik ulang dan diedit sebagian. Yup, tulisan seorang anak SMA yang “cemburu”</span></p>
<p>kepada seseorang yang paling berpengaruh dan dekat dalam kehidupannya. Hehehe&#8230;</p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Teruntukmu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang paling aku inginkan untuk dijadikan bagian dalam diriku. </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang tidak pernah lupa untuk memulai setiap aktifitas dengan Basmallah </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">dan menutupnya dengan Hamdalah.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu menebarkan wangi jiwa disetiap langkah yang kau tempuh.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu telah melakukan kebaikan sebelum mengajak untuk melakukan hal serupa.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu berwajah teduh dalam segala keadaan, ikhlas dalam menghadapi cobaan, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">dan mengambil hikmah disamping pengalaman.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang mampu menjadi pelindung bagi yang kau cintai, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">sosok yang mampu memberikan kenyamanan serta rasa aman bagi orang yang kau cintai itu.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang mampu memberikan ketenangan jiwa bagi siapa saja yang berada didekatmu.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu tersenyum manis penuh keikhlasan, dan membuat set<br />
iap orang merindukan senyumanmu.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang tidak banyak bicara namun bersedia mendengarkan keluh-kesah sekitarmu.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok pemimpin yang arif dan senantiasa memadukan kelembutan dan ketegasan.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang dihormati bukan karena jabatan tapi karena amalan yang kau kerjakan.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang dipandang karena kemuliaan hati dan perbuatan, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">bukan karena harta yang bergelimang.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu mampu memotivasi diri dan membuat orang sekitarmu termotivasi.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Ingin aku sepertimu,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Sosok yang selalu sabar dalam membimbing orang sepertiku, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">sosok yang mengajarkan segala hal sesuai ajaran Allah dan Rasulnya.</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px">
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic"> </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Subhanallah, </span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">Maha Suci Allah yang telah menghadirkan sosok seperti dirimu dalam kehidupanku,</span></p>
<p style="font-family: Cambria; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; margin: 0px"><span class="Apple-style-span" style="font-style: italic">sosok pemilik sifat yang begitu ingin aku miliki darimu.</span></p>
<p><span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: normal; font-family: Cambria;">Hmmmm&#8230;ternyata saya dulu berbakat dalam bikin tulis-tulisan kaya gini ya..Hehehe..</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/ingin-aku-sepertimu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Hadiah Bernama Banjir</title>
		<link>http://berlizone.com/sebuah-hadiah-bernama-banjir.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/sebuah-hadiah-bernama-banjir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 11:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[ 
Postingan spesial buat adikku yang malang. Hehehehe&#8230;
Sabtu tanggal 2 bulan 2 adalah hari yang bersejarah bagi adik saya, karena tanggal 2 bulan 2 tahun 1992 silam adalah hari kelahirannya. Yap, tanggal 2 bulan 2 kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan postingan saya di blog ini adalah ucapan selamat yang ke-2. Hmmm&#8230;buat yang heran atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Arial" lang="IN"> <!--[endif]--><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Postingan spesial buat adikku yang malang. Hehehehe&#8230;<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Sabtu tanggal 2 bulan 2 adalah hari yang bersejarah bagi adik saya, karena tanggal 2 bulan 2 tahun 1992 silam adalah hari kelahirannya. Yap, tanggal 2 bulan 2 kemarin adalah hari ulang tahunnya. Dan postingan saya di blog ini adalah ucapan selamat yang ke-2. Hmmm&#8230;buat yang heran atau malah protes dan menanyakan kenapa saya menyoroti angka 2 pada postingan kali ini, alasannya adalah karena saya anak ke-2 dan menurut saya angka 2 adalah angka yang bentuknya paling lucu, dan juga saya berasal dari SMA 2 yang lulus SPMB untuk pilihan ke-2. Hehehe&#8230;<span>  </span>Kenapa judulnya banjir malah ngomongin anga 2 ya&#8217;?? Yasudah, cukup tentang angka 2 dan mari kita lanjut ke paragraf 2. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">**Bletak** **dipukul gara-gara mengulang-ngulang kata 2**<o:p></o:p><br />
Oiya sebelum ke paragraf 2<span>  </span>saya informasikan dulu bahwa postingan ini adalah yang ke-2 minggu ini. Hehehe&#8230;<o:p></o:p> <!--[endif]--><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Yap kembali ke <strike>angka 2</strike>  topik ulang tahun, seperti yang kita tahu bahwa di Indonesia ini bulan ke-2 dan memang benar hampir setiap tahunnya selalu terjadi hujan yang sangat memungkinkan memanggil banjir untuk datang. Terbukti tahun ini dengan adanya berita-berita banjir yang tersebar merata. Bahkan ada sebuah Headline media massa yang berbunyi <strong>Jakarta Dikepung Banjir</strong>.<span>  </span>Kenapa saya bilang banyak berita, karena saya tahu banjir dari berita dan alhamdulillah tidak merasakan serunya kebanjiran. Hehehe&#8230;<span>  </span>Dan kaitannya dengan ulang tahun adik saya, sudah tradisi di keluarga kami untuk membecandakan (bener ga&#8217; tulisannya) bahwa ketika dia malakin kado langsung dijawab tuh hadiahnya banjir. Hehehe.. Buat yang berulang tahun di bulan Februari, mungkin banjir ini adalah hadiah terbesar untuk kalian semua. Hehe..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-34"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Ngomong-ngomong soal banjir, rasanya memang setiap tahun bangsa kita dikirimi hadiah ini.<span>  </span>Jalur utama Bandara Soekarno-Hatta lumpuh dan jalan alternatifnya macet total, sampai begitu besar pengaruhnya kiriman hadiah ini. Tapi benarkah banjir itu hanya berupa &#8220;hadiah kiriman&#8221; yang datang tiba-tiba tanpa kita inginkan?? Yah, tergantung setiap orang jawabannya. Sebagian mungkin menjawab benar bahwa banjir memang sudah rutin dan tidak bisa dihindari, dan sisanya mungkin menyadari walaupun kita tidak menginginkannya tapi perbuatan kita entah itu perusakkan terhadap lingkungan atau apalah namanya yang seolah-olah menginginkan banjir itu datang sebagai &#8220;hadiah&#8221; atas apa yang kita lakukan tersebut.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Sekarang ini mungkin banjirnya sudah terjadi, dan bukan waktunya lagi memasang sikap menyesal, menyalahkan, ataupun berandai-andai dengan kata-kata &#8220;kalau saja&#8230;..&#8221;. Yah, yang bisa dilakukan sekarang adalah meminimalisir kerugian yang ada dan tentu saja mengambil hikmah setelah banjirnya surut. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Bagi saya sendiri, banjir yang datang tahun ini telah mengingatkan saya untuk selalu belajar dari pengalaman yang ada. Bukan hanya pada konteks banjir karena memang yang namanya pengalaman adalah sesuatu yang berharga. Dari apa yang kita alami setiap tahunnya, saya rasa sudah cukup banyak pengalaman yang kita miliki untuk mengatasi banjir daripada hanya pasrah dan menganggap banjir rutin adalah suatu kewajaran belaka. Belajar dari pengalaman banjirpun ada banyak macamnya. Ambil contoh menurut pengakuan teman saya yang mengalami kebanjiran lagi tahun ini beliau berkata &#8220;Tenang, barang-barang<span>  </span>sudah dipindahkan di tempat aman karena sesuai prediksi saya tahun ini banjir lagi..&#8221; Yap, beliau berkata begitu karena tahun lalu kurang persiapan. Tidak salah dan sangat bagus memang jika berpikir dan bertindak seperti itu.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Tidak sedikit yang melakukan hal serupa, banyak yang sudah menyiapkan sesuatu ketika banjir datang. Memindahkan barang agar terhindar banjir misalnya, atau ada beberapa yang sudah memesan kamar hotel atau penginapan jauh sebelum banjir &#8220;mampir&#8221; ke rumahnya. <strong>Tapi yang sangat disayangkan adalah Mind Set kita sudah menetapkan bahwa banjir pasti akan datang setiap tahunnya, bukan bagaimana agar banjir tidak datang lagi tahun depan.</strong><span>  </span>Memang benar hujan tidak bisa dicegah untuk datang setiap tahunnya, tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu<span>  </span>untuk mencegah banjir kan??<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Ibarat pepatah yang mengatakan &#8220;Lebih baik mencegah daripada mengobati&#8221; mempersiapkan obat yang ampuh untuk mengobati penyakit memang bagus, tapi tetap saja sebelum obat itu digunakan kita sudah terserang penyakit duluan. Sama halnya dengan banjir, memindahkan barang-barang untuk mencegah kerugian besar saat banjir memang bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika kita mencegah banjirnya langsung.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">Semoga banjir kali ini tidak hanya meninggalkan kerugian dan musibah, tetapi juga mennggalkan pelajaran yang berharga bagi kita semua yaitu pelajaran berupa pengalaman. Dan semoga banjir memang bisa menjadi &#8220;Sebuah Hadiah&#8221; yang bisa kita ambil kebaikannya. <em><strong>Terakhir, </strong><strong>sekali lagi buat yang berulang tahun di bulan Februari selamat menikmati hadiahnya ya&#8217;??</strong></em> Hehehe&#8230;<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" lang="IN">**Kabur sebelum ditimpukin sama yang kebanjiran<o:p></o:p></span></p>
<p><!-- Begin: KlikSaya.com --><br />
<script src="http://scr.kliksaya.com/js-ad.php?zid=167" type="text/javascript"> </script><br />
<!-- End: KlikSaya.com --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/sebuah-hadiah-bernama-banjir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik Suatu Keburukan</title>
		<link>http://berlizone.com/dibalik-suatu-keburukan.html</link>
		<comments>http://berlizone.com/dibalik-suatu-keburukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 15:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Berliyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berlizone.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Ramai euy, akhir-akhir ini banyak blogger yang lagi rame-ramenya ngomongin masalah bangsa yang konon bernama Indonesia ini. Tengok saja tulisan kamal yang mengomentari busuknya pengadilan di Indonesia, lalu Ringo yang membahas &#8220;wakil rakyat&#8221; yang tidak merakyat pada tulisannya, tidak ketinggalan juga Dhiemas yang mengangkat topik penyalahartian feminisme, dan masih banyak blogger lain yang membahas hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Ramai euy, akhir-akhir ini banyak blogger yang lagi rame-ramenya ngomongin masalah bangsa yang konon bernama Indonesia ini. Tengok saja tulisan <a href="http://kamal87.wordpress.com" title="Lihat Blognya Kamal" target="_blank">kamal</a> yang mengomentari <a href="http://kamal87.wordpress.com/2008/01/16/busuknya-pengadilan-di-indonesia/" title="busuknya pengadilan...." target="_blank">busuknya pengadilan di Indonesia</a>, lalu <a href="http://gringo1988.wordpress.com/" title="Lihat Ringo" target="_blank">Ringo</a> yang membahas &#8220;wakil rakyat&#8221; yang tidak merakyat pada <a href="http://gringo1988.wordpress.com/2008/01/17/am-i-wrong-to-be-an-indonesian/" title="tulisan Ringo" target="_blank">tulisannya</a>, tidak ketinggalan juga <a href="http://dhiemazrys.blogspot.com" title="Lihat Blognya dhiemas" target="_blank">Dhiemas</a> yang mengangkat topik <a href="http://dhiemazrys.blogspot.com/2008/01/feminisme-koq-salah-kaprah.html" title="Feminisme" target="_blank">penyalahartian feminisme</a>, dan masih banyak blogger lain yang membahas hal serupa. Intinya sama yaitu permasalahan bangsa. Yah memang tidak bisa dipungkiri apa yang mereka tulis itu adalah benar adanya, parahnya semua itu sudah dianggap sebagai cerminan<span>  </span>bangsa kita ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tapi benarkah sudah tidak ada lagi nilai kebaikkan yang tersisa dari bangsa yang konon pernah mendapatkan sebutan &#8220;tanah surga&#8221; ini??<span>  </span>Teringat akan buku Setengah Isi Setengah Kosong buah karya Parlindungan Marpaung yang mengatakan bahwa sudut pandang berbeda akan mempengaruhi hal yang berbeda. Cara pandang positif berkemungkinan besar menghasilkan hasil yang positif namun juga berlaku sebaliknya. Nah karena permasalahan bangsa yang ada sudah banyak terwakili oleh para blogger lain, saya akan mencoba menuliskan hal-hal positif yang dimiliki oleh bangsa. Karena memang kita masih punya sesuatu yang patut kita banggakan, sesuatu yang seharusnya kita syukuri namun terkadang kita lupakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-27"></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Indonesia negara merdeka lho&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yaah, semua orang memang sudah tahu tapi sayangnya beberapa belum<span>  </span>meresapi maknanya. Bisa dikatakan merdeka di sini adalah modal awal yang sangat besar dalam kemajuan suatu bangsa. Tengoklah bangsa-bangsa di belahan dunia lainnya, tidak sedikit yang belum merdeka sepenuhnya. Masih banyak negara-negara yang terusik kemerdekaannya akibat perang atau serangan bangsa lain. Sedangkan bangsa kita sendiri, sudah tidak ada lagi yang mengusiknya secara fisik dan bahkan sudah memiliki bentuk pemerintahan yang sepenuhnya diatur oleh kita sendiri. Beruntung kah bangsa kita?? Sebagian benar tapi sangat tidak fair juga jika kita menganggap kemerdekaan itu hanya keberuntungan semata, karena perjuangan oleh generasi sebelum kita juga lah kemerdekaan ini kita dapatkan.<span>  </span>Jika kita tengok ke belakang sebentar, terlihat bahwa kesolidan justru ada pada saat kita terjajah. Momen-monen dimana seluruh rakyat bersatu sangat terasa saat itu. Memang wajar bagi kita yang lahir setelah kemerdekaan kita dapatkan ini belum atau kurang bisa meresapi makna perjuangan itu, tapi bukankah setiap manusia mempunyai akal pikiran untuk belajar mengambil pelajaran dari<span>  </span>berbagai hal. Jadi marilah kita belajar dari generasi sebelum kita untuk bersatu meneruskan perjuangan mereka dengan mengisi kemerdekaan ini. Jika mereka dahulu saja bisa bersatu, kita yang tinggal meneruskan perjuangan mereka pasti bisa juga kan??</span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Indonesia memang kaya akan budaya dan hasil alam lho&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pernah saya mendengar sebuah cerita bahwa bangsa Jepang pun bersedia untuk menukarkan negara beserta semua teknologi yang mereka miliki sekarang dengan negara kita ini.<span>  </span>Yah, memang seluruh dunia pun sudah mengakui kekayaan alam yang melimpah di negara kita ini.<span>  </span>Ibaratnya kita diberi modal banyak dan hanya perlu mengolahnya saja. Jika pengetahuan dan teknologi yang kurang adalah alasan untuk menghambat kita, maka jadikan lah kekayaan alam itu sebagai motivasi untuk mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum kita dapatkan. Sama halnya dengan kebudayaan, tidak diragukan lagi banyaknya kebudayaan yang kita miliki cukup berharga untuk kita pelihara. Bahkan saking berharganya kebudayaan kita, sampai bangsa lain pun begitu ingin untuk memilikinya juga. Kaya akan kebudayaan dan teknologi, dua hal itu sudah cukup berharga untuk kita jadikan motivasi agar menjadi bangsa yang lebih baik. Yah, kalau bangsa Jepang memotivasi diri mereka karena keterbatasan kekayaan alam yang mereka miliki sehingga bisa mendapatkan teknologi yang mampu mengolahnya secara maksimal, kita juga bisa menjadikan kekayaan alam yang melimpah sebagai motivasi untuk mengolahnya kan??</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Indonesia memang ramah lho&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pernah saya dengar dari salah seorang yang menceritakan pengalamannya pergi ke negeri orang. Beliau mengatakan tidak menemukan keramahan yang bisa dirasakan di Indonesia. Hal tersebut beliau simpulkan saat sedang kesulitan untuk mencari lokasi dan menanyakannya kepada penduduk setempat, hasilnya butuh waktu yang lama untuk menemukan orang yang benar-benar peduli dan bisa membantu. Sebagian besar orang yang dia minta bantuannya bersikap tak acuh dan menyuruh dia untuk mencarinya sendiri. Lain halnya dengan ketika dia pergi suatu daerah di Indonesia yang walaupun belum pernah dia kunjungi sebelumnya namun bisa merasakan keramahan penduduk aslinya.<span>  </span>Terlihat bukan, kalau itu merupakan hal positif yang bisa kita jadikan alasan untuk bangkit. Lah, bangsa lain yang tingkat kepeduliannya dibawah kita saja bisa untuk bersatu, kita juga pasti bisa kan??</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yah, mungkin hal-hal diatas bisa membuat kita sadar bahwa masih ada kebaikan yang dimiliki oleh bangsa kita dibalik keburukan-keburukan yang ada. Memang keburukan dan permasalahan yang ada pada bangsa kita harus kita selesaikan, tapi jika hanya fokus kepada permasalahan tanpa menghargai dan mensyukuri nilai kebaikkan yang ada, itu bukan tindakan yang bijak juga kan. Tapi sekali lagi itu berawal dari seberapa luas sudut pandang kita mampu melihat keadaan bangsa kita ini&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Wallahualam&#8230;.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berlizone.com/dibalik-suatu-keburukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
