Mahasiswa,Lintasan Kereta, dan Berharganya Waktu

Bagi sebagian orang, menyebrang rel kereta akan terasa lebih sulit dibandingkan dengan menyebrangi jalan biasa. Yap, untuk menyebrangi sebuah rel kereta kita dituntut untuk lebih waspada dan hati-hati. Tidak hanya itu, penyebrang rel kereta juga membutuhkan kesabaran yang tinggi mengingat kereta adalah transportasi darat yang paling “egois” yang selalu membuat pengguna jalan lain mengalah ketika dia sudah berjalan. Wajar memang jika pejalan kaki dan pengguna jalan lain yang mengalah dan harus bersabar menunggu kereta lewat ketika hendak menyebrangi lintasan penyebrangan kereta, karena memang kereta tidak bisa berhenti dan jalan sesukanya begitu saja kan? Lagipula jika kita yang kurang sabar dan tidak waspada, bisa nyawa taruhannya.

Berbicara tentang kesabaran dalam menyebrangi rel kereta, ada kejadian yang sebenarnya sudah sering saya lihat di stasiun UI namun baru terpikir untuk saya soroti sekarang. Yup, fenomena menyebrangi perlintasan kereta api tersebut mungkin sudah menjadi pemandangan umum bagi sebagaian mahasiswa UI yang memang mau tidak mau harus melakukannya jika ingin pergi ke kampus, terutama yang tempat kostnya berada di sekitar jalan margonda. Namun beberapa hari yang lalu ada pemandangan langka tentang fenomena ini yang seolah betul-betul mengingatkan saya tentang betapa berharganya nikmat yang bernama waktu. hehe..

Diawali dengan datangnya sebuah kereta tujuan Bogor yang datang dari Stasiun Jakarta Kota, kereta tersebut berhenti sebentar di stasiun UI untuk menurunkan dan mengangkut penumpang di stasiun itu. Momen berhentinya kereta di stasiun ini memang merupakan momen yang tepat untuk menyebrang. Sejujurnya saya juga sering memanfaatkan momen ini ini untuk menyebrang, dan memang begitulah cara saya menyebrang saat itu. Tidak ada yang aneh sampai saya berhasil menyebrang dan memang saya lihat kereta tujuan bogor itu masih berhenti di stasiun. Beberapa langkah kemudian, saya mendengar pengumuman dari pihak stasiun yang memberitahukan bahwa kereta tersebut akan segera melanjutkan perjalanannya dan benar memang saat itu kereta mulai jalan perlahan-lahan. Ironisnya masih banyak orang yang saya yakin sebagian besarnya adalah mahasiswa tetap menyebrang seolah-olah mengabaikan peringatan pihak stasiun itu. Yang lebih menyedihkan lagi, pihak stasiun sampai menyampaikan peringatannya berulang-ulang. Bahkan ketika saya menoleh kebelakang saya melihat kereta itu sudah berada beberapa meter (mungkin sekitar 5 meter) dari tempat penyebrangan dan saat itu masih banyak mahasiswa yang berlari berusaha mendahului kereta itu untuk menyebrangi rel (saat itu memang kereta masih berjalan perlahan-lahan). Tidak hanya itu bahkan beberapa petugas stasiun akhirnya turun tangan untuk memastikan tidak ada lagi pengguna jalan yang nekat menyebrang dari sisi sebelahnya. Baru kali ini saya melihat fenomena seperti ini, fenomena dimana masih terlihat banyak pejalan kaki yang nekat menyebrang rel dengan kereta yang sudah berada beberapa meter di depannya.

Sangat disayangkan sikap yang diambil oleh para pejalan kaki yang mayoritas adalah mahasiswa itu, sampai memaksa petugas stasiun untuk menjaga dan mengingatkan untuk tidak nekat menyebrang. Wajar jika yang menyebrang adalah anak-anak yang mungkin belum begitu mengerti konsekuensinya, dan masih membutuhkan seseorang untuk membimbingnya dalam menentukan kapan harus menyebrang dan kapan harus menunggu. Tapi yang saya lihat waktu itu adalah orang-orang sebaya yang saya yakin sudah mampu berpikir secara logis untuk memutuskan sesuatu, apalagi ini hanya masalah sikap dalam menyebrang rel. Pantas kah jika kita mengabaikan peringatan yang sudah jelas untuk kenyamanan dan keamanan kita sendiri?? Sekilas sikap kedewasaan tidak tampak dari para penyebrang. Begitu sulitnya kah membuat para penyebrang rel mengerti sampai pihak stasiun harus berulang kali menyampaikan peringatannya?? Begitu sulitkah menyadarkan seseorang dengan lisan sampai memaksa petugas stasiun untuk turun langsung menjaga pejalan kaki agar tidak menyebrang karena kereta sedang lewat?? Ironis memang, tapi begitulah kondisi nyatanya. Kurangnya kesadaran yang sangat adalah penyebabnya, itulah mungkin yang menggambarkan keadaan disekitar kita.

Jika dilihat dari sudut pandang lain, fenomena ini juga mengingatkan saya betapa berharganya waktu. Menurut pendapat saya, alasan mereka nekat adalah karena mereka tidak ingin kehilangan waktu yang ada. Wajar karena waktu saat itu sudah hampir pukul 08.00, waktu dimana banyak penyebrang yang juga mahasiswa tersebut memulai kuliahnya. Begitu berharganya waktu sampai banyak orang berani mengambil resiko mengabaikan peringatan pihak stasiun dan tetap menyebrang. Begitu berharganya waktu sampai orang tidak mau bersabar sedikit karena takut akan kehilangannya walaupun sedikit. Mungkin dari sini juga kita bisa belajar untuk lebih menghargai waktu dengan lebih bijak. Saya yakin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan berarti mengambil resiko yang bisa merugikan berbagai pihak.

Semoga kita bisa bersikap lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah. Menjadikan fenomena penyebrangan rel kereta ini sebagai pelajaran berharga dan sebagai refleksi diri adalah jalan terbaik yang mungkin harus kita lakukan. Bukan maksudnya untuk menggurui, hanya sekedar mengingatkan. hehehe…

4 Responses to “ Mahasiswa,Lintasan Kereta, dan Berharganya Waktu ”

  1. Ah.. Berli juga bgitu… :D

    ~ Kabur…

  2. Makanya, jangan ditiru dit…
    :P

  3. makanya jangan kesiangan.

  4. Haha…

    Ente lebih sering jadi penunggang Kereta sih Rif….
    Sekali-kali jadi Pejalan kaki dunx…

    ~Kabuurr…

Leave a Reply

::2 ::3 ::4 ::5 ::6 ::27 ::12 ::32 ::16 ::22 more »

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>