Menduakan Amanah?? Hati-hati lho
Menduakan amanah?? apaan tuh?? sebenarnya hanya sebuah istilah yang saya ciptakan sendiri untuk menggambarkan seseorang yang memiliki lebih dari satu peran penting dalam kehidupan berorganisasinya. Tidak sedikit orang yang menduakan amanahnya dalam berbagai hal, contoh sederhananya adalah seseorang yang terlibat di lebih dari satu kegiatan keorganisasian entah itu di kampus atau dimanapun itu. Bisa dikatakan berorganisasi memang bisa melatih diri untuk mengembangkan diri dalam banyak hal, namun dengan catatan kita harus memperhatikan juga syarat dan ketentuan yang berlaku (bukan iklan lowh..hehe). Syaratnya cukup sederhana yaitu Fokus dan Bijak dalam membagi waktu. Yup, teori yang sebenarnya sudah sangat akrab ditelinga para organisator, dan mungkin selalu menjadi pertimbangan ketika orang tersebut memutuskan untuk terlibat dalam suatu organisasi. Masalahnya, syarat dan ketentuan yang berlaku itu akan menjadi sangat berat bagi orang-orang yang menduakan amanah (baca: aktif di lebih dari satu organisasi). Bagaimana tidak, percaya atau tidak orang yang aktif di lebih dari satu organisasi akan lebih sulit untuk Fokus dan harus lebih bijak dalam membagi waktunya. Dari kalimat itu saja mungkin kita langsung berpikir untuk tidak coba-coba untuk menduakan amanah.
Sayangnya saya adalah salah satu orang yang menduakan amanah. Seperti yang mungkin pembaca tahu saya adalah salah seorang yang terdaftar di dalam beberapa organisasi, dua di kampus, dan satu di luar. Buat yang belum tahu silahkan baca dulu halaman profil saya (narsis mode on..Hehe). Dan inti dari tulisan kali ini adalah untuk share pengalaman dan juga untuk mendapatkan masukkan dari pembaca yang mungkin mengalami nasip yang sama. hehehe..
Sudah hampir satu tahun saya menduakan amanah, awalnya memang berjalan lancar dan saya cukup menikmatinya, namun seiring berjalannya waktu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. hehe.. Tapi bukan menyesal juga lowh. Terlebih lagi saat ini adalah puncak-puncaknya dimana saya mulai keteteran untuk menjalankan semuanya dengan sempurna. Berikut ini saya ceritakan bahayanya menduakan amanah berdasarkan pengalaman pribadi saya :
Sejauh mana peran Skala Prioritas ketika kita menduakan amanah??
Bagi siapa pun penerapan skala prioritas memang sangat efektif untuk urusan manajemen waktu, terlebih lagi bagi mereka yang memiliki jadwal kegiatan yang padat. Namun pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan adalah sampai sejauh mana skala prioritas berperan untuk menyelesaikan amanah yang kita duakan dengan sempurna?? Pada dasarnya setiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam menetapkan skala prioritasnya. Namun yang ideal adalah ketika kita mendapatkan dua amanah dan bingung memilih mana yang harus diprioritaskan, maka kita harus memilih yang jika kita tinggalkan amanah itu akan menjadi terlalaikan. Atau singkatnya adalah memilih yang peran kita dalam amanah itu lebih berpengaruh. Dan harus diakui itu adalah salah satu cara yang saya lakukan dalam menentukan skala prioritas. Sayangnya terkadang kita akan menemui keadaan ketika amanah-amanah yang berbeda itu memiliki urgensi dan skala prioritas yang sama persis, paling tidak itulah yang saya alami. Kasusnya seperti ini, ketika itu saya diamanahkan untuk menjalankan dua buah acara di dua organisasi yang berbeda dan saat itu saya juga harus menjalankan amanah yang lain yang sudah ada lebih dulu, intinya ada 3 amanah besar yang harus saya kerjakan dalam satu waktu. Kebetulan posisi saya di 3 amanah tersebut memiliki tingkat urgensi yang sama (katakanlah sebagai seorang Ketua atau Project Officer). Sulit rasanya menetapkan skala prioritas saat itu, yang terpikirkan saya saat itu adalah tidak mungkin menjalankan amanah yang ada dengan optimal tanpa adanya pengorbanan. Dan masalahnya mana yang harus saya korbankan??
Skala Prioritas, cuma kita yang tahu, yang lain mana tahu
Hmmm…sepertinya cukup jelas kalimat diatas karena memang benar ketika kita menetapkan skala prioritas, keputusan akhir ada di tangan kita sendiri bukan pada orang lain. Namun terkadang si perantara pemberi amanah (disebut perantara karena memang sesungguhnya semua amanah itu datangnya dari Allah) menuntut bahwa urusan dengan dirinya lah yang harus mendapatkan prioritas paling tinggi. Ironisnya ketika kita sudah memutuskan untuk menetapkan prioritas nomor satu kepada satu amanah, pihak yang terlibat di amanah lainnya mengingatkan kita dengan kata-kata “Ingat skala prioritas”. Jadi siapkan mental yang cukup karena mungkin kita akan melihat kekecewaan dari pihak-pihak yang urusan dengan mereka kita korbankan, dan itu karena kita “menduakan amanah”.
Fokus dengan pikiran terpecah, sanggupkah ??
Yap, salah satu yang harus kita lakukan dalam menjalankan suatu amanah adalah Fokus, yaitu memusatkan pikiran dan bekerja secara maksimal pada amanah tersebut. Lalu bagaimana jika kita menduakan amanah?? Bukan tidak mungkin, tapi akan sangat sulit untuk fokus ke semuanya sekaligus karena memang saat kita menduakan amanah otomatis pikiran kita terpecah belah. Bayangkan bagaimana sulitnya kita memfokuskan pikiran yang terpecah itu.
Jadi, masih ingin kah kita menduakan amanah?? Yaa, terserah anda mau menjawab apa,paling tidak itulah yang saya alami ketika saya menduakan amanah. Hehehe…
Terkadang memang ada kalanya ketika amanah datang tanpa kita cari dan mau tidak mau kita harus siap menerimanya, namun bagi yang masih sempat untuk bisa memutuskan apakah mau menerima atau tidak amanah itu sebaiknya berpikir terlebih dahulu dengan matang. Berani Menolak terkadang merupakan cara terampuh yang mungkin bisa kita lakukan. Orang yang lebih banyak amanahnya belum tentu lebih baik dari orang yang mengerjakan lebih sedikit amanah, karena bisa jadi orang yang kebanyakan amanah memiliki waktu yang lebih sedikit untuk mengerjakan amalan-amalan yang lain. bandingkan jika orang yang tidak menduakan amanahnya, dia akan lebih optimal dan fokus mengemban amanahnya itu dan juga optimal dalam mengerjakan amalan lain. Pesan tekahir di postingan ini, “Menduakan Amanah” itu ibarat pedang bermata dua, dia bisa membuat kita menjadi lebih baik dalam mengambil keputusan namun sebaliknya bisa juga membuat kita menjadi lalai dan futur. Jadi?? Maukah kita “menduakan amanah”?? Yaa teserah anda..hehehe..











Menduakan amanah jika kita tdk sanggup memikulnya amat berbahaya. Apalagi menduakan “permata hati” di luar syari’at Islam. Hmmm… Tambah berbahaya… :D
Kabur sbelum digebugin…
Hmmm… “Permata Hati” itu juga salah satu amanah terbesar di dalam kehidupan kita di dunia lowh…
Mau menduakan “Permata Hati”?? satu saja Sangat berat…hehehe..
~Hmmm..knapa ngebahas “Permata Hati” ?? :P
Jangankan “mendua” mencari satu saja sudah susah…
Amanah itu, tidak perlu dicari pun akan datang waktunya sendiri ko’…
Hwehehehe….
Yang penting bukan berapa banyak amanah yang kita pegang, tapi bagaimana cara kita memperlakukan amanah itu… hehe..
Orang yang memiliki lebih sedikit amanah khan belum tentu lebih buruk dibanding orang yang banyak amanahnya…
Yah…tampaknya saya juga termasuk orang yg harus memelajari hal ini
Mempelajari yang mana wan? hehe.. :P
ane termasuk orang yang terlalu berani mengambil banyak amanah. klo diitung2 bisa sampe 7 amanah sekaligus ane jabanin pada segala aspek: organisasi formal, dakwah, bisnis, akademis dll
memang selama ini sulit buat ane utk mengatur fokus. tapi ane camkan diri ane bahwa memang ini adlaah saatnya untuk terus mempertinggi potensi ane. amanah2 tersebut sudah terlanjur diberikan pada ane. Dan ane akan berusaha sekuat tenaga supaya ane tidak menelantarkan satu amanah dengan alasan amanah yang lain.
klo ente sendiri? percayalah amanah yg nt pegang sekarang masih sedikit klo dibandingin bobot dan kuantitasnya dibandingkan amanah yang dipegang oleh pernah dipegang oleh banyak orang besar yang pernah hidup dibumi ini.
tetep semangat!!!
Wah, sepertinya saya bisa belajar banyak dari kamal nih…hehe…
Sepertinya kita mirip Mal, ane sekarang juga lagi 8 amanah sekaligus nih…
Trimakasih buat masukkannya, Subhanallah bagus banget..
Yah, memang kuncinya usaha, target untuk mencapai hasil yang sempurna memang bagus, tapi Allah juga menilai usaha maksimal kita kan…
Teteup Semangat Jugha…
Bagus sekali artikelnya Ber..
Sekedar menambahkan terkadang ketika kita “dipaksa” untuk menentukan suatu pilihan dan kita sudah mengetahui yang lebih diprioritaskan, kita memilih jalan yang lain yang bukan merupakan suatu yang lebih diprioritaskan tadi. Jadi, disini ketegasan dalam hati pun juga ikut mempengaruhi.
~sok bijak..:)
Ya’ ya,,,terkadang memang seperti itu…hehehe..
~sok mengerti…