SapiKu, Kenapa Engkau Mengamuk??
Kamis, 20 Desember 2007. Yah, sudah tentu semua orang tahu kalau hari itu bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah yang artinya semua umat muslim merayakan hari besar Idul Adha. Pagi yang cerah mengawali hari indah ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua penghuni rumah akan melaksanakan sholat Idul Adha yang bertempat di Lapangan Kemang 3. Ibadah ini dimulai tepat pukul 07.00 yang diawali dengan sholat Idul Adha kemudian dilanjutkan dengan khutbah oleh Prof.Dr.dr.H.Dadang Hawari, Psikiater (bener gak ya tulisannya begitu…hehehe), khutbah tahun ini bertemakan “Dengan Semangat Berkorban Kita Masuki Pembangunan Dalam Era Reformasi”. Sampai khutbah selesai belum ada tanda-tanda akan adanya sesuatu yang aneh hari ini. hehehe…
Selang beberapa jam, giliran acara potong-potongan hewan qurban yang meramaikan momen Idul Adha ini. Acara dilaksanakan di pinggir kali (baca: saudaranya sungai) kemang pratama 3 dekat masjid Ar Rahman. Kali ini peserta qurbannya lebih banyak dari tahun kemarin, totalnya ada 15 Sapi dan ratusan kambing (lupa pastinya seratus berapa). Sekedar informasi, tahun kemarin hewan qurbannya sebanyak 12 ekor sapi dan ratusan ekor kambing. Ups!? kelupaan, yang dimaksud peserta qurban di kalimat sebelumnya itu adalah para sapi dan kambing yang mengikuti acara potong hewan qurban ini. Hehehe…. Kebetulan keluarga saya juga mengirimkan seekor sapi sebagai kontestan di acara potong hewan qurban ini. Dan cerita utama pun dimulai di sini…..
Yup, siang-siang sekitar jam 9 saya berangkat ke tempat acara itu berlangsung (di pinggir kali kemang 3). Berangkatnya cuma sendirian karena ibu saya sudah berada di lokasi kejadian, beliau berangkat duluan karena kebagian tugas bungkus-bungkusin daging para kontestan yang sudah di potong bersama ibu-ibu lainnya.hehehe… Sampai sana, sudah terlihat beberapa kontestan yang sudah dipotong. Rupanya proses pemotongan dipisahkan kategorinya, kategori kambing dan kategori sapi. Sapi bertempat di bagian utara, sedangkan kambing berada di bagian selatan. (ga’ tau dink sebenernya ga’ tau mana utara mana selatan. hehehe…). Yang pertama saya lakukan adalah celingak-celinguk mencari keberadaan ibu tercinta baru kemudian menyadari ternyata warga yang menonton proses pemotongan lebih banyak dari hewan yang dipotong. hehehe… Setelah menemukan sang ibu tercinta yang rupanya sedang sibuk membungkus-bungkus daging qurban, barulah saya berusaha mencari sapi saya (sapi keluarga) dan mencari tahu bagaimana nasipnya. Yah, sebagai pengumuman kami sekeluarga membeli seekor sapi untuk qurban. Sayangnya lagi-lagi saya lupa menyadari kalau ternyata saya belum pernah melihat sapi keluarga saya itu. Daripada saya menanyakan satu-satu ke sapi yang masih tersisa dengan pertanyaan “Kamu sapi saya bukan??” ntar malah dikira sebagai mahasiswa jurusan “Komunikasi Hewan”. Hehehe… Akhirnya saya memutuskan untuk menanyakannya kepada ibu tercinta, mencari tahu sosok sapi kami dan menanyakan apakah sudah dipotong atau masih menunggu giliran. Hehehehe….
Setelah mengumpulkan informasi, belakangan diketahui bahwa sapi saya itu bernomor urut 8. Yasudah langsung deh saya samperin tuh sapi, mau tahu tampangnya kaya apa (Yaa kaya sapi lah.hehehe). Ternyata lumayan juga tampangnya, minimal paling keren lah klo dibanding sapi-sapi lainnya. Trus klo dilihat dari ukuran badannya, sepertinya bukan yang paling gede badannya karena diantara sapi yang sudah dipotong ada yang ukuran badannya menggambarkan kalo sapi itu yang paling banyak makannya. Yang saya heran bukan dari ukuran atau tampangnya, tapi rada heran juga ngeliat sapi saya itu yang ternyata melakukan aktifitas berbeda dengan sapi-sapi lain yang masih menunggu giliran. Yup, coba bayangkan sapi-sapi lain yang menunggu giliran pada sibuk makanin rumput atau tidur-tiduran sementara sapi nomor 8 malah sibuk nontonin saudara-saudaranya yang lagi dalam proses pemotongan. Dugaan sementara adalah sapi saya itu termasuk ke dalam sapi pecinta lingkungan, karena dia tidak ikutan menjadi perusak lingkungan seperti apa yang dilakukan sapi-sapi lainnya (makan rumput ijo maksudnya..hehehe). Selain pecinta lingkungan yang baik ternyata sapi ini bermental baja dan sudah mengikhlaskan hidupnya, karena walaupun melihat saudaranya dipotong dia tetap masang tampang tegar. Sejujurnya baru pertama kali ini saya melihat sapi yang melihat saudaranya dipotong di depan matanya sendiri tapi tetap anteng. Subhanallah ternyata sapi saya sapi yang sabar dan penuh keikhlasan. hehehe..
Akhirnya giliran sapi saya untuk dipotong telah tiba, ditandai setelah panitia mengumumkan bahwa sapi no 8 adalah milik keluarga saya. Akhirnya sang sapi no 8 digiring ke tempat pemotongan yang sudah disiapkan sebelumnya. Sang sapi digiring dengan cara ditarik dengan tali oleh 3 orang panitia. Di sinilah “Tragedi Sapi Ngamuk” dimulai. Awalnya sang sapi no 8 tenang namun rupanya beberapa detik setelah digiring, dia mulai melakukan pemberontakkan. Sang sapi melawan dan mencoba melepaskan tarikkan 3 orang itu, sesaat perlawanan sapi itu membuat semua mata warga tertuju padanya. Ada yang ngeliatin dengan penuh kegembiraan entah mendukung sang sapi atau panitia, ada yang teriak-teriak histeris tapi masih tetap menunjukkan kegembiraan pada wajahnya, dan mungkin ada juga yang bertanya-tanya “ihh sapi siapa sih tuh ko’ badung amat??”. Lalu saya sendiri?? Yah, bangga juga karena sapinya bisa membuat para warga terpana dengan aksi amukannya. hehehe… Suasana semakin panas ketika bala bantuan datang, panitia yang tadinya lagi sibuk dengan kerjaannya masing-masing turun tangan membantu untuk menarik sang sapi ke tempat eksekusi. Di sini perlawanan sapi juga semakin menjadi-jadi, suasana semakin menjadi tegang, terlihat dari raut wajah warga yang mulai menampakkan kekhawatiran. Mungkin ada juga yang masih bertanya-tanya “ih sapi siapa sih tuh?? begajulan amat..”. Lalu, saya sendiri?? Hanya diam menyaksikan kelakuan si sapi sambil pura-pura tidak kenal dengan si Sapi. hehehe… Akhirnya tarik-tarikan 6 orang panitia vs 1 ekor sapi dimenangkan oleh sang sapi, yah sang sapi berhasil melepaskan diri dari tarikkan panitia. Hmmm..prestasi yang membanggakan juga ya, ternyata sapi saya itu tidak modal tampang doank, tapi juga kuat. Selanjutnya, sang sapi lari-lari kegirangan di sekitar lapangan pinggir kali.
Aku bebas,,aku bebas,,, mungkin begitu yang diteriakkan sang sapi. hehehe…. Dia berlari ke arah teman-temannya yang masih diikat, aksinya itu membuat para warga juga ikut berlari ketakutan. Saat itu saya segera mencari ibu saya yang rupanya juga sudah panik. Paling tidak saya bisa melindungi sang ibu jika si sapi tiba-tiba menyerang. hehehe… Sementara itu sang sapi masih berlari ke arah teman-temannya yang masih terikat. Saat itu saya pikir akan ada adegan dimana sang sapi membebaskan teman-temannya sambil berteriak “tenanglah teman-teman, aku akan menyelamatkan kalian”. hehehe.. (kaya di film-film model Lion King gitu). Tapi namanya juga sapi, dia malah tega meninggalkan teman-temannya dengan melewati mereka begitu saja dan tetap berlari. Tapi lama kelamaan ko’ malah mirip kaya sapi keder (baca: sapi pusing ga’ tahu jalan). Ternyata sapi saya itu memang sebenarnya ga’ tahu jalan untuk kabur, terbukti dari arah berlarinya yang cuma bolak-balik muter-muter kaya ular di pager. Mungkin kejadian ini akibat si sapi melihat secara langsung teman-temannya yang sebelumnya dipotong. Yah, ternyata sapi pun bisa trauma. hehehe…
Rupanya cuaca di sini turut mendukung sang sapi yang lagi mengamuk, langit sudah sangat mendung dan mungkin akan segera turun hujan. Sepertinya sih menggambarkan suasana hati sang sapi, tapi tampaknya tuh sapi masih asyik lari-larian ga’ tahu kalo ujan mau turun. Sementara sang sapi muter-muter di pinggir kali, saya mulai membayangkan kondisi-kondisi terburuk yang mungkin bisa terjadi akibat ulah sang sapi itu. diantaranya adalah :
- Sang sapi kepeleset dan jatuh ke kali terus hanyut ke dalam air lalu kebawa arus dan muter-muter kali kemang dengan tujuan awal yang mulia yaitu melakukan penghijauan di sepanjang pinggiran kali kemang.
- Sang sapi membebaskan teman-temannya (sapi-sapi lain dan kambing-kambing yang belum dipotong) lalu bersatu untuk memberontak yang akhirnya menjadi pemberontakan sapi terbesar sepanjang sejarah
- Sang sapi mencari tahu siapa yang membeli dia untuk dijadikan hewan qurban, lalu berniat balas dendam.
- Sang sapi cuma iseng lari-lari pecicilan karena cuma mau cari perhatian orang-orang banyak.
Hmmm..ternyata hasilnya tidak ada yang cocok dengan kenyataan di lapangan. hehehe…ya iyalah.. Mana ada sapi yang mengamuk membebaskan teman-temannya lalu memimpin pemberontakan sapi untuk membalas dendam kepada manusia yang menjadikannya hewan qurban, dan setelah berhasil ditangkap sang sapi hanya mengatakan “cuma iseng” sampai akhirnya dia kualat kepeleset dan hanyut kebawa air kali. hehehe…
Akhirnya, para panitia berhasil menangkap kembali sang sapi dengan paksa. Caranya keren, yaitu dengan menyelengkat sang sapi pake tali sampai terjatuh, lalu mengikatnya erat-erat. Dan sapi yang mengamuk akhirnya kembali tenang dan siap dipotong. Warga yang menonton pun kembali mendekati arena pemotongan setelah sebelumnya mengungsi menjauhi TKP. hehehe.. Lalu saya sendiri?? masih dengan sikap pura-pura tidak kenal dengan si sapi, saya juga ikutan kembali mendekat untuk menyaksikan sang sapi dipotong. Beberapa menit kemudian, sapi saya itu berhasil dipotong. Untungnya sapi-sapi yang dipotong setelahnya ga’ ada yang terinspirasi dari sapi saya itu untuk ikutan mengamuk. Sesaat setelah semua hewan qurban dipotong, hujan baru turun seolah membersihkan darah para hewan dan mengiringi kepergian para hewan qurban yang mati di jalan-Nya. Semoga darah-darah hewan qurban itu nantinya menjadi saksi atas ketaqwaan umat terhadap sang Maha Pencipta, Allah SWT.











wahh..wahh…wah…
sapi yang anegh…ber…
btw, mana nih satenya??
kagak di sate y???
WOW!!
I swear, that story could be put on a magazine, newspaper, or somewhere worthwhile so that every body could also read it.. Cause, I know for sure that it gave me great time reading it.. Its one of the best I ever read..
Keep up the good work mate. Hope to see your new post soon.
@freelonk
Daging sapi jatah keluarga saya sebagian di jadiin Empal Gentong dan Sate, sisanya dibagiin ke orang lain…hehehe… Dapetnya kebanyakan soalnya…
@anonymous
Thanks….
Sayangnya saya ga’ inget untuk ngambil foto waktu pas sapi ngamuk waktu itu…(dah keburu panik duluan..hehehe…). Nyadarnya pas sapinya udah anteng…
Rajin-rajin mampi ya’?? Hehehe…
It’s a shame..
It would have been funny to see a photo of the cow looking like he was a rebellion trying to save his friends, instead he got all looney..
Hehehe.. :P
paling ngakak pas bagian ‘pura-pura gak kenal sama si sapi’..
padahal itu ajang beken yang oke lho ber..
ntar sekampung kenal berli sebagai pemilik si sapi ngamuk.. keren kan? hha..
makanya ber, jgn pake baju merah..jd ngamuk khan..
btw, lo koq g ikut “dipotong” y??Apa loe kabur…hehe…
@anonymous
Tapi sudah terlambat karena fotonya gagal didapatkan..hehehe….
@azka
Tapi, walaupun begitu, saya belum sempat menanyakan nama sang sapi itu siapa….HEhehe…
@Ringo
Saya pake baju Koko Putih Ngo, baju yang sama waktu pas Sholat Id…
Mank sapi ngaruh sama warna merah ya’?? itu mah banteng kali…
huahahaha..untung sapi gw g begajulan kayak sapi lo..dia pasrah aja pas mau dieksekusi..
kayajnya dia udah minta maaf ama sanak saudara atas dosa2nya slama jd sapi
@naChan
Sapi loe baek juga mau maap2an dulu sama keluarganya..
Sapi gw waktu itu mungkin lagi Puber makanya pecicilan..hehehe… :mrgreen:
kasihannya nich sapinya capek lari-lari he…he…heee…