Susahnya Memaafkan Diri Sendiri

selftitlednightmare.deviantart.com

selftitlednightmare.deviantart.com

Masih ingat dengan postingan saya tentang susahnya memaafkan dan meminta maaf terdahulu? Jika lupa ataupun belum sempat membaca, silahkan bergulir ke halaman itu. Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas topik sejenis seputar maaf memaafkan, hanya saja kali ini objeknya berbeda yaitu bukan memaafkan orang lain melainkan memaafkan diri sendiri. Terdengar cukup klasik namun percayalah saya pernah beberapa kali mendapatkan email  yang isinya meminta pendapat sekaligus meminta saran tentang masalah memaafkan diri sendiri. Dan memang memaafkan diri sendiri terkadang lebih susah daripada memaafkan orang lain.

Sedikit menyiksa memang jika kita melakukan suatu kesalahan dan selalu terngiang-ngiang di kepala tentang kesalahan yang kita buat tersebut.  Terlebih lagi jika kesalahan tersebut melibatkan orang-orang terdekat kita, mungkin rasanya  beragam mulai dari malu, tersiksa batin, susah tidur, atau mungkin ingin melakukan operasi plastik untuk mengganti wajah. Hehehe.. Terkesan becanda namun pada kenyataannya ini masalah yang cukup serius, karena tidak bisa memaafkan diri sendiri sangat berpotensi untuk menimbulkan trauma yang sangat mungkin membuat seseorang tidak bisa hidup “normal”. Dan tulisan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang sulit memaafkan dirinya sendiri.

Perasaan bersalah memang sangat diperlukan, adanya perasaan bersalah bukan hal buruk jika kita menyikapinya dengan tepat. Adanya perasaan bersalah itu menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki perasaan malu dan takut, artinya paling tidak masih ada keimanan dalam hatinya. Analoginya begini, misalkan hati kita adalah sebuah kertas dan noda hitam adalah kesalahan yang kita perbuat. Jika perasaan bersalah muncul di hati yang bersih maka seperti noda hitam yang ada di kertas yang putih, sangat mengganggu dan ingin segera dibersihkan. Lalu bayangkan jika seandainya kertas tersebut berwarna hitam, noda hitam tentunya tak akan jadi pengganggu karena memang tidak mengubah kehitaman kertas tersebut. Kertas hitam itulah yang diibaratkan sebagai hati yang sudah kebal dengan kesalahan, sudah terbiasa melakukan kesalahan dan seolah tak memiliki perasaan bersalah sedikitpun. Jadi, pertama-tama bersyukur dahulu karena hatimu bukanlah kertas hitam karena masih memiliki keresahan hati akan suatu kesalahan.

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka seseungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S An-Nazi’aat: 40-41)

Masalahnya terkadang perasaan bersalah yang berlebihan mampu memberikan tekanan batin yang luar biasa. Bahkan mampu membuat seseorang berputus asa dan yang terparah adalah muncul niatan untuk mengakhiri hidup sendiri. Naudzubillah. Karena itulah perasaan bersalah wajib kita kendalikan untuk menghindari dari keputusasaan.

“…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S Yusuf: 87)

Beberapa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan rasa bersalah antara lain adalah :

Salah itu Manusiawi, Lebih baik Akui daripada ditutupi
Tak ada orang yang sempurna 100% tanpa dosa di bumi ini. Setiap orang pasti pernah berbuat salah entah kesalahan kecil ataupun kesalahan besar. Bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang semakin besar godaan untuk berbuat salah. Tidak ada untungnya menutupi sebuah kesalahan yang kita kerjakan, lebih baik segera akui dan hindari dari berbohong untuk menutupinya. Toh, Allah Maha Mengetahui segala perbuatan makhluknya. Jika perbuatan salah tersebut melibatkan urusan orang lain segera datangi dan minta maaf padanya, Insya Allah hati menjadi lebih lega dan akan lebih mudah memaafkan diri sendiri.

Yakinlah Allah itu Maha Pengampun
“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Q.S an-Najm: 32).

Janganlah menghakimi diri kita sendiri dengan perasaan bersalah. Allah saja bukan Zat yang dzalim, yang menutup kebaikan bagi kita. Selalu ada jalan untuk kembali ke jalan-Nya selama ajal belum menjemput. Tentu saja dengan taubat yang sungguh-sungguh, alias taubatan nasuha yang berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan jelek tersebut.

Tambal Dengan Kebaikan
Anggaplah sebuah tabungan dimana kesalahan berarti mengurang saldo, dan berbuat baik adalah melakukan setoran tunai. Jika melakukan kesalahan segeralah mengerjakan kebaikan untuk menjaga saldo tabungan kita tidak terkuras.

“…dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, karena ia akan menghapusnya.” (al-Hadits)

Jadikan Pelajaran
Berbuat salah memang “pahit” rasanya, namun akan berarti positif bagi kita jika dijadikan sebagai pelajaran. Dari kesalahan kita semakin sadar betapa pahit dan mahalnya harga sebuah kesalahan. Maka jadikan kesalahan yang kita perbuat sebagai pelajaran berharga, bukan hanya sekedar kenangan.

Wallahuallam…

10 Responses to “ Susahnya Memaafkan Diri Sendiri ”

  1. bener juga kata Berli..
    terkadang ada orang yang tidak bisa memaafkan dirinya sendiri..
    karena suatu masalah sedikit, bisa jadi frustasi..
    sebaiknya kita melapangkan hati kita, ya kan..

    ada cerita, jika air selebar gelas, garam segenggam terasa pahit.
    namun jika air seluas lautan, garam segenggam tidak ada pengaruhnya..

    nah, air itu hati kita, garam itu permasalahan kita..

    betul??
    :-)

  2. sebenernya ga perlu memaafkan diri sendiri, soalnya emang kita ga pernah salah. keadaan lah yang memaksa kita untuk berbuat salah. jadi seharusnya menyalahkan keadaan, dan memaafkan keadaan.. hehhe
    ~ngaco,, XD

    ~TenkiuEniweiKaBerli =)
    I’ll try

  3. @Indra
    Setuju aja deh Mat. Hehehe..

    @Kika
    Hmmm..Ko’ saya kurang sependapat ya sama pernyataan kika itu. Keadaan kita ya termasuk ujian juga, mau bagaimana kita menghadapi keadaan itu pun bagian dari ujian itu. Menyalahkan keadaan itu menurut saya mendekati ketidak ikhlaskan dalam menjalani ujian hidup itu. Trus rasanya cuma orang egois dan kurang bijak jika dia merasa dirinya ga’ pernah salah dan justru mencari hal lain untuk disalahkan. Hehehe…

  4. Saya sdh khianati sahabat saya. Bohongi dia. Sy prnh beranikan diri mengakui dan meminta maaf kepadanya langsung di rumahnya. Dia memaafkan. Tapi tegas dia mengatakan tdk ada keinginan utk bersahabat lagi dgn saya. Sahabat saya 7 tahun. Hanya dia. Dan entah apa kah msh pantas sy dimaafkan.. Krn sy pun tdk jg memaafkan diri sy sndri.

  5. “Sedikit menyiksa memang jika kita melakukan suatu kesalahan dan selalu terngiang-ngiang di kepala tentang kesalahan yang kita buat tersebut.”

    Setuju banget Ber..

    Tengkyu dah.. Btw, kayanya ada adik kelas gw yang butuh baca postingan ini nih.. Hmmmm,, gimana caranya biar dia baca yah..

  6. @fia
    kesalahan masa lalu bisa dijadikan pengalaman yang berharga untuk waktu yang kita hadapi sekarang, pilihan yang keliru jika memilih untuk tidak memaafkan diri sendiri. So’ sambil berusaha memaafkan diri sendiri, berusaha juga menjaga hubungan dengan pihak yang merasa dirugikan. Memang butuh waktu dan entah sampai kapan tapi satu hal yang pasti usaha yang tidak terputus-putus dan tanpa menyerah lah kuncinya.

    @nuril
    di copy juga ga masalah ko Nyil, semoga bermanfaat..

  7. apa pantas memaafkan diri sendiri yang memang selalu mengulang kesalahan2 yang sama, selalu ada niat untuk memperbaiki kesalahan itu tapi selalu saja ada godaan yang membuat diri ini untuk melakukan dan melakukannya lagi….

  8. @ummu zailah
    apa pantas manusia menentukan seseorang termasuk dirinya sendiri pantas atau tidak untuk dimaafkan.
    Allah saja Maha Pemaaf. ^_^
    Jadi hilangkan saja asumsi pantas atau tidak, karena yang terpenting memang usaha untuk tidak mengulanginya lagi kan, bukan masalah godaannya karena memang itu pasti selalu ada.

  9. menurut aku, siapa pun bisa berbuat salah tanpa disadari atau disadari. tapi jika sampai menghakimi diri sendiri, rasanya sedih sekali. menurut aku, memaafkan diri sendiri itu sangat perlu sekali. kalau bukan diri sendiri yang sayang sama diri kita sendiri mau siapa lagi? kalau kita berbuat salah menurut aku paling bagusnya kita minta maaf terhadap orang tersebut dan memaafkan diri kita sendiri. menghakimi orang lain,menurutku juga tidak perlu. justru kalau orang lain salah, kita kasih jalan yang baik dan benar. karena kita sadar, setiap orang itu mau bahagia. menghakimi diri sendiri itu menyakiti diri sendiri dan juga menyakiti orang yang kita sayangi tanpa disadari

  10. Kita perlu berdamai dengan diri sendiri, kalau gk..?? kita akan terus nyalahkan diri sendiri, akhirnya yg sakit ,,,,,,, ya kita sendiri. yang penting berusaha berdamai dan memaafkan diri sendiri, hingga kedamaian itu akan kita rasakan

Leave a Reply

::2 ::3 ::4 ::5 ::6 ::27 ::12 ::32 ::16 ::22 more »

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>